PNEUMOTHORAX

 

 

Disusun sebagai bahan presentasi

 

 

 

 

 

Disusun Oleh Kelompok 2

Windra Bangun S

 

 

 

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN DIII

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH

GOMBONG

2011

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.       Pengertian Pneumothorax

Pneumothoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura. Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa mengembang terhadap rongga dada.

Pneumothorax dapat terjadi secara spontan / akibat trauma tembus atau tidak tembus. pneumothorax disebabkan oleh penyakit dasar seperti tuberkulosis paru disertai fibraosis atau emfisema lokal, bronkitis kronis dan emfisema.

 

  1. B.       Etiologi

Pneumothoraks dapat terjadi secara spontan atau traumatik dan klasifikasi pneumothoraks berdasarkan penyebabnya dibagi sebagai berikut :

  1. Pneumothoraks spontan

Pneumothoraks spontan adalah setiap pneumothoraks yang terjadi tiba-tiba tanpa adanya suatu penyebab

  • Pneumothoraks spontan primer (PSP)

Adalah suatu pneumothoraks yang terjadi tanpa ada riwayat penyakit paru yang mendasari sebelumnya, umumnya pada individu sehat, dewasa muda, tidak berhubungan dengan aktivitas fisis yang berat tetapi justru terjadu pada saat istirahat dan sampai sekarang belum diketahui penyebabnya.

  • Pneumothoraks spontan sekunder (PSS)

Adalah suatu pneumothoraks yang terjadi karena penyakit paru yang mendasarinya (tuberkulosis paru, PPOK, asma bronkial dsb)

  1. Pneumothoraks traumatik

Pneumothoraks traumatik adalah pneumothoraks yang terjadi akibat suatu penetrasi kedalam rongga pleura karena luka tusuk atau luka tembak atau tusukan jarum. Pneumothoraks traumatik juga ada 2 jenis yaitu

  • Pneumothoraks traumatik bukan iatragenik

Adalah pneumothoraks yang terjadi karena jelas kecelakaan misalnya jajar dinding dada terbuka / tertutup.

 

  • Pneumothoraks traumatik iatragenik

Adalah pneumothoraks yang terjadi akibat tindakan medis. Penumothoraks jenis ini masih dibedakan menjadi 2. pneumothoraks traumatik iatragenik aksidental dan pneumothoraks traumatik iatrogenik arti fisial (deliberate)

 

  1. C.       Patofisiologi

 

Gangguan pemenuhan nutrisi

         Gangguan pola tidur

Gangguan rasa nyaman

Nafsu makan menurun

Gangguan pola aktifitas

       Ketidak efektifan jalan nafas

         Gangguan pola nafas

Sesak nafas

Adanya penumpukan mucus

Nyeri dada

Ekspansi paru menurun

Obstruksi cheeck value

Alveoli pecah

Peningkatan tekanan intra pulmonal

         Udara masuk dalam kavum pleura

         Perobekan bula

Traumatik

spontan

                                                                                                                                                                                                                                                           

                                                                         

 

 

 

 

  1. D.       Gejala Klinis

Keluhan subyektif

  1. Nyeri dada pada sisi
  2. Sesak dapat sampai berat kadang bisa hilang dalam 24 jam apabila sebagian paru kolaps sudah mengembang kembali.
  3. Kegagalan pernapasan dan mungkin pula disertai sianosis.
  4. Kombinasi keluhan dan gejala klinis pneumothoraks sangat tergantung pada besarnya lesi penumothoraks.

Menurut Mills dan Luce pasien pneumothoraks spontan dapat asistomatik atau menimbulkan kombinasi nyeri dada batuk dispnea.

 

  1. E.     Komplikasi

Pneumothoraks tension ( terjadi pada 3-5% pasien pneumothoraks ), dapat mengakibatkan kegagalan respirasi akut, pio, pneumothoraks, hidro-pneumothoraks / hema – pneumothoraks, henti jantung paru dan kematian (sangat jarang terjadi) pneuma mediastinum dan emfisema subkutan sebagai akibat komplikasi pneumothoraks spontan.

Biasanya karena pecahnya esofagus atau bronkusi sehingga kelainan tersebut harus ditegakkan (insidennya sekitar 1%), pneumothoraks simulran bilateral, insidennya sekitar 2%; pneumothoraks kronik, bilateral ada selama waktu lebih dari 3 bulan, insidennya sekitar 5%.

 

  1. F.        Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pneumothoraks tergantung dari jenis pneumothoraks, derajat kolaps berat ringan gejala, penyakit dasar dan penyulit yang terjadi untuk melaksanakan pengobatan tersebut dapat dilakukan tindakan medis atau tindakan bedah.

  1. a.        Tindakan medis

Tindakan observasi, yaitu dengan mengukur  tekanan intra pleural menghisap udara dan mengembangkan paru. Tindakan ini terutama di tujukan pada penderta pneumothoraks tertutup atau terbuka sedangkan untuk pneumothoraks ventil tindakan utama  yang harus dilakukan dekompresi terhadap tekanan intra plura yang tinggi tersebut yaitu dengan membuat hubungan dengan udara luar.

  1. Tindakan dekompresi

Membuat hubungan rongga pleura dengan dunia luar dengan cara :

  1. Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk kerongga pleura dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif karena udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif karena udara keluar melalui jarum tersebut.
  2. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil :
  • Dapat memakai infus set
  • Jarum abbocath
  • pipa water sealed drainage (WSD)

Pipa khusus (thoraks kateter) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan perantara troakar atau dengan bantuan klem penjepit (pean) pemasukan pipa plastik (thoraks kateter) dapat juga dilakukan me;lalui celah yang telah dibuat dengan bantuan insisi kulit dari sela iga ke 4 pada garis aksila tengah atau pada garis aksila belakang. Selain itu dapat pula melalui sela iga ke 2 dari garis klavikula tengah. Selanjutnya ujung selang plastik didada dan pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik di dada dan pipa kaca WSD di hubungkan melalui pipa plastik lainnya posisi ujung pipa kaca yang berada  di botol sebaiknya berada 2 cm dibawah permukkaan air supaya gelembung udara dapat dengan mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut.

  1. Tindakan bedah

Dengan pembukaan dinding thoraks melalui operasi duicari lubang yang menyebabkan pneumothoraks dan dijahit.

  • Pada pembedahan, apabila dijumpai adanya penebalan pleura yang menyebakan paru tidak dapat mengembang, maka dilakukan pengelupasan atau dekortisasi.
  • dilakukan reseksi bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau bila ada fistel dari paru yang rusak. Sehingga paru tersebut tidak berfungsi dan tidak dapat dipertahankan kembali.
  • pilihan terakhir dilakukan pleurodesis dan perlekatan antara kedua pleura ditempat fistel.

 

 

 

  1. G.       Pemeriksaan Penunjang

Analisa gas darah arteri memberikan gembaran hipoksemia meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan pneumotoraks primer paru kiri sering menimbulkan perubahan aksis QRS dan gelombang T, prekardial pada gambaran rekaman elektro kardiografi (EKG) dan dapat ditafsirkan sebagai infark mionard akut (IMA). Pada pemeriksaan foto dada tampak gambaran sulkus kostafrenikus radiolusen, sedang pneumothoraks tension pada gambaran foto dadanya tampak jumlah udara hemotoraks yang cukup besar dan susunan mediastinum kontralateral bergeser.

Pada foto dada PA, terlihat pinggir paru yang kollaps berupa garis pada pneumothoraks parsialis yang lokalisasinya di anterior atau porterior batas pinggir paru ini mungkin tidak terlihat.

Mediastinal ships” dapat dilihat pada foto PA atau fluoroskopi pada saat penderita inspirasi atau ekspirasi, terutama dapat terjadi pada “tension pneumothoraks”

 

  1. H.       Asuhan Keperawatan
    1. 1.        Pengkajian
      1. Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, no. register, diagnosa medis, dan tanggal MRS.

  1. Keluhan utama

Pasien mengeluh sesak nafas dan nyeri di bagian dada.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Pada umumnya didapatkan keluhan utama pada klien seperti sesak nafas dan nyeri di bagian dada.

  1. Riwayat penyakit dahulu

Biasanya dikaitkan dengan penyakit yang sama pada masa sebelumnya.

  1. Riwayat penyakit keluarga

Meliputi susunan keluarga dengan penyakit yang sama (pneumothoraks), ada/tidak dalam anggota keluarganya yang menderita penyakit menular, turunan.

  1. 2.        Pola-pola fungsi kesehatan
    1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.

Kaji kebiasaan pasien tentang melaksanakan hidup sehat seperti mandi, sikat gigi dan makan atau periksa kalau sakit.

  1. Pola nutrisi dan metabolisme.

Pada pasien pneumothoraks bisa mengalami penurunan nafsu makan karena nyeri pada dada / nyeri telan

  1. Pola eliminasi.

Kaji kebiasaan BAB atau BAK apakah ada perubahan atau tidak pada pasien pneumothoraks.

  1. Pola tidur dan istirahat.

Pada pasien pneumothoraks biasanya mengalami gangguan pola tidur diakibatkan sesak / nyeri pada bagian dada.

  1. Pola sensori dan kognitif.

Pada pasien pneumothoraks biasanya tidak mengalami kelainan (normal)

  1. Pola aktifitas.

Biasanya pada pola aktivitas mengalami gangguan karena nyeri.

  1. Pola reproduksi sexual.

Kaji jenis kelamin pasien, mengalami gangguan dalam melaksanakan hubungan seksual apa tidak kelainan pada alat genitalia.

  1. Pola hubungan peran.

Apakah mengalami gangguan dalam menjalankan perannya seshari-hari.

  1. Pola penanggulangan stress.

Kaji kebiasaan pasien dalam menghadapi masalah / stres.

  1. 3.        Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum

Pasien lemah, bedres

  1. Kulit, rambut, kuku

Keadaan kulit, rambut dan kuku

  1. Kepala, leher

Biasanya pada kasus pneumothorak kepala dnleher tidak mengalami gangguan

  1. Mata

Pada kasus mata tidak mengalami gangguan

  1. Telinga, hidung, dan tenggorokan

Biasanya tidak mengalami gangguan

  1. Thorak dan abdomen

Dada tampak gambaran sulkus kostafrenikus radiolusen

  1. Sistem respirasi

Biasanya mengalami Pernafasan sesak kumaul cepat dan dalam

  1. Sistem kardiovaskuler

Pada kasus pneumothorak denyut jantung mengalami gamgguan

  1. Sistem genitourinaria

Biasanya mengalami gamgguan

  1. Sistem gastrointestinal

Biasanya mengalami gangguan

  1. Sistem muskuloskeletal

Pada kasus ini pasien mengalami kelemahan

  1. Sistem endokrin

Biasanya pada kasus ini sistem endokrin tidak mengalami gangguan

  1. Sistem persyarafan

Biasanya Pasien sering merasa gelisah.

  1. 4.        Masalah Keperawatan
    1. Pola napas tak efektif b/d : Gangguan ekspansi paru sekunder terhadap: akumulasi cairan(hidrotoraks/hemotoraks) / udara(pneumotoraks) dalam rongga pleura, luka dada menghisap (sucking chest wound), flail chest
    2. Kerusakan pertukaran gas b/d Perubahan membran alveolar-kapiler, edema pulmonal, emboli paru Hipoventilasi, retensi CO2.
    3. Gangguan rasa nyaman (peningkatan suhu) berhubungan dengan adanya peradangan parenkim paru ditandai dengan pasien mengatakan badannya terasa panas.
    4. Nyeri (akut) b/d cedera parenkim paru
    5. Ansietas/ketakutan b/d krisis situasional
    6. 5.        Intervensi

No Dx

Intervensi

 

Rasional

1

   Beri penjelasan pada pasien tentang penyebab sesak

Beri posisi semi fowler.

 

Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan

Monitor TTV klien

 

   Untuk menambah pengetahuan pada pasien

Memaksimalkan ekspansi paru

Untuk mengurangi sesak

 

untuk mendeteksi secara dini ketidak normalan dan untuk mengetahui tingkat perkembangan pasien

2

   Pantau status pernafasan tiap 8 jam , pantau TTV tiap 4 jam, dan pantau analisa gas darah juga foto rongen

Pertahankan posisi semi fowler atau fowler

Berikan terapi oksigen tambahan sesuai anjuran, sesuaikan kecepatan aliran dengan hasil analisa gas darah

    Untuk mengidentifikasi kemajuan – kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan

Untuk memaksimnalkan ekspansi paru

Pemberian oksigen tambahan dapat menurunkan kerja pernafasan dengan menyediakan lebih banyak oksigen

3

   Kaji terhadap adanya nyeri (lokasi, durasi)

Berikan posisi semi fowler atau nyaman terhadap letak selang dada.

 

 

 

Monitor letak selang dan sistem draenage

 

 

 

Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kebutuhannya.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik.

 

    Untuk mengevaluasi derajat nyeri

Posisi yang menekan dan tidak nyaman dapat menumbuhkan rasa nyeri klien.

Letak selang yang menekan jaringan luka dapat menimbulkan nyeri.

Untuk menjaga resiko cidera

 

Analgesik dapat meningkatkan nilai ambang nyeri pada susunan syaraf pusat tanpa menekan kesadaran.

 

4

   Berikan analgesik sesuai anjuran untuk mengatasi nyeri, konsultasi kedokter jika analgesik tidak efektif

Berikan tindakan untuk memberikan rasa nyaman dengan cahaya yang redup dan menciptakan lingkungan yang tenang

Konsultasi pada dokter jika nyeri makin memburuk

 

Bantu pasien dalam ber ambulasi sesuai dengan kebutuhannya

    Analgetik membantu mengontrol nyeri dengan memblok jalan rangsang nyeri

Tindakan ini akan meningkatkan relaksasi

 

 

 

 

Hal tersebut bisa menjadi tanda komplikasi

Untuk menjaga tidak terjadi cidera

5

   Tetap dampingi pasien atau meminta keluarga untuk mendampingi

Pertahankan pendekatan yang tenang dan percaya diri

Batasi pengunjung

 

 

 

Berikan penkes pada pasien dan keluarga mengenai penyakit

    Ansietas akan berkurang

 

Untuk memotifasi klien

 

Memberikan kenyamanan karena pengunjung dapat menimbulkan stres

Agar klien tidak cemas dengan kondisinya

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Pneumothorax dapat terjadi secara spontan / akibat trauma tembus atau tidak tembus. pneumothorax disebabkan oleh penyakit dasar seperti tuberkulosis paru disertai fibraosis atau emfisema lokal, bronkitis kronis dan emfisema.

Dalam hal ini perawat sebagai salah satu tim yang secara langsung dalam menghaapi klien haruslah melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, dikarenakan akan dapat mengakibatkan mudahnya terjadi infeksi atau komplikasi yang lainnya dikarenakan tindakan keperawatan yang tidak sesuai dengan prosedur keperawatan.

Kita sebagai seorang perawat diharapkan dapat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan prioritas masalah yang terjadi pada klien. Dan dalam pelaksanaan tersebut perawat harus mampu melindungi dirinya dari penularan penyakit yang diderita oleh pasien tersebut. Selain itu perawat dapat memperendah atau mengurangi resiko terjadinya infeksi dengan cara perawatan yang aseptik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Mansjoen, Arif dkk, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Media Assculapius, Jakarta, 2001

Himpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2001, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi III Jilid II, Jakarta. Balai Penerbit FKUI.

 

 

About these ads