MAKALAH

ADAPTASI SISTEM ORGAN YANG DAPAT MENIMBULKAN GANGGUAN PADA IBU HAMIL DAN SOLUSINYA

Makalah ini disusun sebagai syarat tugas tengah semester

Disusun Oleh :

WINDRA BANGUN S

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH

GOMBONG

2012

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Proses kehamilan sampai kelahiran merupakan rangkaian dalam satu kesatuan yang dimulai dari konsepsi, nidasi, pengenalan adaptasi ibu terhadap nidasi pemeliharaan kehamilan, perubahan endokrin sebagai persiapan menyongsong kelahiran bayi dan persalinan dengan kesiapan untuk memelihara bayi.

Dalam menjalani proses kehamilan tersebut, ibu hamil mengalami perubahan-perubahan anatomi pada tubuhnya sesuai dengan usia kehamilannya. Mulai dari trimester I, sampai dengan trimester III kehamilan. Perubahan-perubahan anatomi tersebut meliputi perubahan sistem pencernaan, perubahan sistem perkemihan, dan perubahan sistem muskuloskeletal. Perubahan pada sistem pencernaan seperti sembelit, mual atau nause, perut kembung akibat makanan yang tertahan dalam lambug. Perubahan pada sistem perkemihan seperti ibu hamil sering buang air kesil karena adanya desakan oleh fetus yang semakin besar dalam uterus. Perubahan pada sistem muskuloskeletal seperti postur tubuh ibu yang berubah, membuatnya tak nyaman untuk bergerak.

B. Rumusan Masalah

1. Apa perubahan dari anatomi pada ibu hamil ?

2. Apa masalah – masalah yang di hadapi ibu hamil dalam proses adaptasinya?

3. Perubahan apa saja yang dialami oleh ibu hamil ?

C. Tujuan

Setelah membaca makalah ini diharapkan kita mengetahui adanya adaptasi yang dialami oleh ibu hamil dalm hal ini adalah organ dan gangguan yang dialaminya.

D. Sistematika Penulisan

Makalah ini tersusun atas BAB I PENDAHULUAN yang terdiri dari latar belakang, rumusan masalah, tujuan, sistematika penulisan; BAB II PEMBAHASAN terdiri dari konsep dasar, adaptasi organ, pokok asuhan kehamilan,; BAB III PENUTUP terdiri dari kesimpulan dan daftar Pustaka

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar

Kehamilan adalah suatu proses yang normal akan tetapi kebanyakan wanita akan mengalami perubahan baik dari segi psikologis maupun emosional selama kehamilan. Pada ibu hamil, perubahan anatomi sistem – sistem pada tubuh berkembang sesuai tahap usia kehamilannya. Mulai dari trimester I, sampai trimester III kehamilan. Sistem-sistem tersebut meliputi : sistem pencernaan, sistem perkemihan, dan sistem muskuluskeletal.

B. Beberapa Adaptasi Organ yang Terjadi

1. Sistem Pencernaan

a. Muntah

Pada bulan pertama kehamilan terdapat perasaan tidak enak [ nausae ], akibat kadar hormon estrogen yang meningkat. Tonus otot-otot traktus digestivus menurun, sehingga morbilitas seluruh taktus digestivusi juga kurang. Makanan lebih lama berada dilambung dan apa yang telah dicernakan lebih lama berada dalam usus-usus. Gejalah muntah biasanya terjadi pada pagi hari yang biasa dikenal dengan morning sickness.

Solusi :

1) Selama muntah masih dalam batas wajar dan tidak membahayakan baik kandungan maupun ibu maka tidak perlu khawatir.

2) Hindarkan dari makanan yang berbau tajam, amis, menyengat

3) Minum dingin untuk mengurangi rasa mual

4) Ciptakan suasana nyaman

5) Berikan obat anti mual jika diperlukan dengan kolaborasi dokter

b. Konstipasi

Konstipasi karena pengaruh hormone progesteron yang meningkat saat kehamilan.

Solusi :

1) Anjurkan makanan berserat, sedikit tapi sering jika mual

2) Anjurkan minum banyak sebagai keseimbangan cairan

c. Gigi berlubang

Gigi berlubang terjadi lebih mudah pada saliva yang bersifat asam selama masa kehamilan.

Solusi :

1) Perawatan intensif dibutuhkan pada kasus gigi berlubang

2) Gosok gigi minimal 2x sehari dan minimal berkumur setelah makan

2. Sistem Perkemihan

a. Uterus membesar ( sering buang air kecil )

Ibu akan merasa lebih sering ingin buang air kecil. Pada bulan pertama kehamilan kandung kemih tertekan oleh uterus yang mulai membesar Pada minggu-minggu pertengahan kehamilan, frekuensi berkemih meningkat. Hal ini umumnya timbul antara minggu ke- 16 sampai minggu ke- 24 kehamilan. Pada akhir kehamilan, bila kepala janin mulai turun kandung kemih tertekan kembali sehinggal timbul sering kencing.

Solusi :

Hal ini merupakan sesuatu yang wajar untu itu tidak usah kawatir dalam hal ini, hanya saja perlu diperhatikan kebersihan alat vital serta perhatikan kelembaban alat vital.

b. Kerja Ginjal meningkat

Kerja ginjal meningkat karena mengingat ginjal ibu digunakan untuk dua individu. Minggu ke-10 gestasi, pelvis ginjal dan uretra berdilatasi. Pada kehamilan normal fungsi ginjal cukup banyak berubah. Laju filtrasi glomerulus dan aliran plasma ginjal meningkat pada awal kehamilan. Ginjal wanita harus mengakomodasi tuntutan metabolism dan sirkulasi ibu yang meningkat dan juga mengekskresi produk sampah janin. Ginjal pada saat kehamilan sedikit bertambah besar, panjangnya bertambah 1-1,5 cm

Solusi :

1) Anjurkan ibu minum air cukup dan seimbang

2) Anjurkan ibu hamil berbaring pada posisi rekumben lateral karena kerja ginjal akan lebih efisien.

3. Sistem Muskuluskeletal

a. Kehilangan tonus otot

Pada trimester II, peningkatan berat wanita hamil menyebabkan postur dan cara berjalan wanita berubah secara menyolok. Otot dinding perut meregang dan akhirnya sedikit kehilangan tonus otot.

b. Perubahan postur tubuh dan nyeri punggung

Postur tubuh wanita secara bertahap mengalami perubahan karenan janin membesar dalam abdomen.Untuk mengkompensasikan penambahan berat ini, bahu lebih tertarik kebelakang dan tulang belakang lebih melengkung, sendi tulang belakang lebih lentur, dapat menyebabkan nyeri tulang punggung pada wanita.

Solusi :

1) Anjurkan ibu untuk mengurangi aktifitas berat untuk menyimpan energi dan mengurangi resiko cidera yang membahayakan

2) Jaga kesehatan tubuh dengan memperhatikan asupan nutrisi yang cukup seimbang

c. Perut membesar

Disebabkan adanya pertumbuhan janin. Pada kehamilan 20 minggu bagian teratas rahim sejajar dengan pusar (umbilicus). Kebanyakan wanita mulai tampak pembesaran perutnya pada kehamilan 16 minggu.

Solusi :

Hal ini sangat normal terjadi dan hal yang perlu dilakukan adalah Kontrolah perkembangan janin pada dokter, Apakah ada hamil kembar atau adanya ganguan

4. Sistem integumen

a. Perubahan kulit

Saat hamil sering kali timbul melasma seperti flek kehitaman di wajah, di lipatan-lipatan tubuh seperti ketiak dan leher, bahkan timbul garis tengah dan memanjang pada permukaan kulit perut.

Solusi :

1) Berikan pengerian pada ibu bahwa hal ini wajar terjadi.

2) Asupan nutrisi cukup, istirahat cukup

3) Hindarkan adanya perasaan minder dan cantik hilang

b. Payudara membesar

Trimester I

Terdapat peningkatan dari ukuran nodulus, estrogen dan progesteron menyebabkan ukuran payudara membesar, puting susu juga membesar dan warnanya lebih gelap, kelenjar montgomery membesar dan hipertropi sehingga puting dareola mamae lembab. Progesteron dan somatotropin menimbulkan deposit lemak, air dan garam pada payudara, ujung syaraf tertekan menyebabkan rasa sakit.

Trimester II

Estrogen dan progesteron mempengaruhi pertumbuhan dari sistem dukutus, lobuli dan alveoli dan dapat meningkatkan produksi susu selama kehamilan. Konsentrasi dan kadar prolaktin dalam darah ibu meningkat.

Trimester III

Mammae semakin tegang dan membesar sebagai persiapan untuk laktasi akibat pengaruh somatotropin, estrogen dan progesteron, dan pada trimester ini kolostrum sudah mulai keluar.

Pembesaran payudara juga dipengaruhi oleh peningkatan hormon saat hamil yang menimbulkan pelebaran pembuluh darah dan memberi nutrisi pada jaringan payudara. Perubahan ini akan dirasakan setelah usia kehamilan 3 bulan. Puting dan sekitarnya akan semakin berwarna gelap dan besar, serta ada bintik-bintik kecil yang timbul di sekitar putting, itu disebut kelenjar kulit.

Solusi :

1) Jaga kelembaban payudara dan puting khususnya yang sangat sensitif

2) Jangan biarkan puting kering dan lecet, berilah minyak pelembab

5. Sistem Pernafasan

a. Diafragma naik

Pernafasan menjadi lebih pendek dan dalam (frekuensi 14-15 x/menit) akibat peningkatan penggunaan oksigen dan diafragma yang tertekan ke atas oleh janin.

Solusi :

1) Batasi gerak, ciptakan suasana nyaman

2) Bebaskan ruangan dan buka ventilasi ruangan

3) Atur posisi klien fowler

C. Prinsip pokok asuhan kehamilan

1. Proses kehamilan adalah proses yang fisiologis

Kehamilan bukan suatu penyakit tapi kehamilan adalah proses yang normal dan wajar dialami wanita.

2. Non intervensi dan sederhana

Ini bukan berarti tidak boleh memberikan tindakan sama sekali, namun tindakan disesuaikan dengan kebutuhan klien. Dan diusahakan penggunaan tenologi yang mulai dari yang sederhana lebih dahulu.

3. Aman berdasarkan evidence based

Bahwa asuhan yang diberikan harus didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang sudah dibutikan serta tidak membahayakan klien.

4. Aman berdasarkan evidence based

Bahwa asuhan yang diberikan harus didasarkan pada bukti-bukti ilmiah yang sudah dibutikan serta tidak membahayakan klien.

5. Menjaga kerahasiaan ibu / privasi

6. Membantu ibu dalam meciptakan proses fisiologis

7. Memberikan infomrasi dan konseling yang cukup

8. Mensuport ibu dan keluarga supaya aktif

Memberdayakan keluarga dalam asuhan yang diberikan

9. Menghormati praktik adat

Dalam memberikan asuhan seorang bidan harus menghargai praktik adat yang dilakukan trutama praktik adat yang mendukung proses asuhan.

10. Menghormati kesehatan fisik, psikologis, spiritual dan sosial ibu.

11. Usaha promosi dan preventive

Asuhan yang diberikan penekananya dalam fokus utamanya adalah usama promotive dan preventive.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada setiap kehamilan akan terjadi perubahan-perubahan anatomi sesuai tingkat usia kehamilan ibu hamil tersebut. Perubahan tersebut dimulai pada trimester awal sampai trimester terakhir kehamilan yaitu trimester III. Perubahan-perubahan anatomi yang terjadi pada ibu hamil diantaranya meliputi sistem pencernaan, sistem perkemihan, dan muskuloskeletal yang berkembang sesuai dengan kondisi janin yang ada di kandungan ibu.

Pada sistem pencernaan di awal trimester timbul gejala morning sickness dan berangsur membaik pada trimester selanjutnya, bahkan nafsu makan pun meningkat. Mual (nausea) terjadi karena makanan lebih lama berada di lambung dan dicerna sangat lambat di usus. Terjadi konstipasi karena pengaruh hormone progesterone yang meningkat. Selain itu perut kembung juga terjadi.

Pada sistem perkemihan pada awal trimester sudah menunjukkan gejala sering buang air kecil akibat didesak oleh fetus dan berlangsung sampai trimester III. Perubahan struktur ginjal merupakan aktifitas hormonal [ estrogen dan progesteron ], tekanan yang timbul akibat pembesaran uterus, dan peningkatan volume darah.

Pada sistem muskuloskeletal di awal kehamilan, perubahan-perubahannya tidak begitu mencolok, tetapi seiring dengan bertambahnya umur kehamilan peningkatan berat wanita hamil menyebabkan postur dan cara berjalan wanita berubah secara menyolok dan lebih sulit untuk bergerak. Postur tubuh wanita secara bertahap mengalami perubahan karenan janin membesar dalam abdomen. Kadangkala, perubahan-perubahan tersebut membuat ibu tidak nyaman, tetapi selama perubahan-perubahan tersebut tidak terlalu mengganggu aktivitas ibu, maka kehamilan tersebut dianggap kehamilan fisiologis.

Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan RI (1996). Pusat Penyuluhan Kesehatan Masyarakat, Depkes ; Jakarta.

http://bidanberkarya.blogspot.com/2011/02/konsep-dasar-asuhan-kehamilan.html

http://heldaupik.blogspot.com/2012/02/askep-perubahan-selama-kehamilan.htm

DIET PADA KLIEN PRE OPERASI

&

POST OPERASI

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh Kelompok 2

WINDRA BANGUN S

 

 

 

 

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN DIII

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH

GOMBONG

2011

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Dari setiap tubuh manusia menjadi hal yang menarik untuk dipelajari. Salah satunya mengenai penyakit, patofisiologi, manifestasi klinis hingga bagaimana menangani masalah. Perkembangan kemajuan teknologi muncul berbagai macam penyakit yang mungkin sudah ada yang bisa diketahui penyebabnya ataupun dalam penyelidikan ahli termasuk penyakit, penangananya serta pola gizi melalui diet yang tepat.

Makanan bukanlah hal sepele yang bisa kita singkirkan, justru ini menjadi hal yang penting baik pada klien sakit biasa ataupun pada pembedahan. Anggapan masyarakat mengenai sistem diet selama ini masih banyak sekali kekurangan untuk itu kita perlu memberi kesadaran yang komprehensif dari cara, macam diet, tujuan diet, dll.

 

  1. B.     Rumusan Masalah

    Apa yang diet pre operasi ?

    Apa macam makanan untuk diet?

    Apa tujuan diet post operasi ?

    Bagaimana pemberian makanan pada klien ?

    Bagaimana contoh kasus diet dalam masyarakat ?

 

  1. C.    Tujuan

Dengan membaca makalah ini, mahasiswa mampu mengenal apa yang dimaksud dalam diet pre dan post operasi.

 

  1. D.    Sistematika Penulisan

Makalah ini tersusun atas BAB I PENDAHULUAN yang terdiri dari latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan dan sistematika Penulisan; BAB II PEMBAHASAN Terdiri dari pengertian diet pre dan post operasi, tujuan, jenis makanan, contoh kasus; BAB III PENUTUP terdiri dari Kesimpulan dan daftar Pustaka.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.       Mengenal Jenis Makanan
    1. 1.    Diet Makanan Biasa

Makanan biasa sama dengan makanan sehari-hari yang beraneka ragam, bervariasi dengan bentuk, tekstur dan aroma yang normal. Susunan makanan mengacu pada Pola Menu Seimbang dan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan bagi orang dewasa sehat. Makanan biasa diberikan kepada pasien yang berdasarkan penyakitnya tidak memerlukan makanan khusus (diet). Walau tidak ada pantangan secara khusus, makanan sebaiknya diberikan dalam bentuk yang mudah dicerna dan tidak merangsang pada saluran cerna.

Tujuan diet makanan biasa adalah memberikan makanan sesuai kebutuhan gizi untuk mencegah dan mengurangi kerusakan jaringan tubuh.

Syarat-syarat diet makanan biasa adalah:

    energi sesuai kebutuhan normal orang dewasa sehat dalam keadaan istirahat;

    protein 10-15% dari kebutuhan energi total;

    lemak 10-25% dari kebutuhan energi total;

    karbohidrat 60-75% dari kebutuhan energi total;

    cukup mineral, vitamin dan kaya serat;

    makanan tidak merangsang saluran cerna;

    makanan sehari-hari beraneka ragam dan bervariasi.

    Makanan yang tidak dianjurkan untuk diet makanan biasa adalah makanan yang merangsang, seperti makanan yang berlemak tinggi, terlalu manis, terlalu berbumbu, dan minuman yang mengandung alkohol.

  1. 2.    Diet Makanan Lunak

Makanan lunak adalah makanan yang memiliki tekstur yang mudah dikunyah, ditelan, dan dicerna dibandingkan makanan biasa. Menurut keadaan penyakit, makanan lunak dapat diberikan langsung kepada pasien atau sebagai perpindahan dari makanan saring ke makanan biasa.

Tujuan diet makanan lunak adalah memberikan makanan dalam bentuk lunak yang mudah ditelan dan dicerna sesuai kebutuhan gizi dan keadaan penyakit.

Syarat-syarat diet makanan lunak adalah sebagai berikut:

    energi, protein, dan zat gizi lain cukup;

    makanan diberikan dalam bentuk cincang atau lunak, sesuai dengan keadaan penyakit dan kemampuan makan pasien;

    makanan diberikan dalam porsi sedang, yaitu tiga kali makan lengkap dan dua kali selingan;

    makanan mudah cerna, rendah serat, dan tidak mengandung bumbu yang tajam.

  1. 3.    Diet Makanan Saring

Makanan saring adalah makanan semi padat yang mempunyai tekstur lebih halus daripada makanan lunak, sehingga lebih mudah ditelan dan dicerna. Menurut keadaan penyakit, makanan saring dapat diberikan langsung kepada pasien atau merupakan perpindahan dari makanan cair kental ke makanan lunak.

Tujuan diet untuk makanan saring adalah memberikan makanan dalam bentuk semi padat sejumlah yang mendekati kebutuhan gizi pasien untuk jangka waktu pendek sebagai proses adaptasi terhadap bentuk makanan yang lebih padat.

Syarat-syarat diet makanan saring adalah:

    hanya diberikan untuk jangka waktu singkat selama 1-3 hari, karena kurang memenuhi kebutuhan gizi terutama energi dan tiamin;

    rendah serat, diberikan dalam bentuk disaring atau diblender;

    diberikan dalam porsi kecil dan sering yaitu 6-8 kali sehari.

Makanan saring diberikan kepada pasien sesudah mengalami operasi tertentu, pada infeksi akut termasuk infeksi saluran cerna, serta kepada pasien dengan kesulitan mengunyah dan menelan, atau sebagai perpindahan dari makanan cair ke makanan lunak. Karena makanan ini kurang serat dan vitamin C, maka sebaiknya diberikan untuk jangka waktu pendek, yaitu selama 1-3 hari saja.

  1. 4.    Diet Makanan Cair

Makanan cair adalah makanan yang mempunyai konsistensi cair hingga kental.

Makanan ini diberikan kepada pasien yang mengalami gangguan mengunyah, menelan, dan mencernakan makanan yang disebabkan oleh menurunnya kesadaran, suhu tinggi, rasa mual, muntah, pasca perdarahan saluran cerna, serta pra dan pasca bedah. Makanan dapat diberikan secara oral atau parental.

Menurut konsistensi makanan, makanan cair terdiri atas tiga jenis, yaitu: makanan cair jernih, makanan cair penuh, dan makanan cair kental. Makanan cair jernih adalah makanan yang disajikan dalam bentuk cairan jernih pada suhu ruang dengan kandungan sisa (residu) minimal dan tembus pandang bila diletakkan dalam wadah bening. Jenis cairan yang diberikan tergantung pada keadaan penyakit atau jenis operasi yang dijalani.

Tujuan diet makanan cair jernih adalah untuk:

memberikan makanan dalam bentuk cair, yang memenuhi kebutuhan cairan tubuh yang mudah diserap dan hanya sedikit meninggalkan sisa, mencegah dehidrasi yang menghilangkan rasa haus.

Syarat diet makanan cair adalah:

    makanan diberikan dalam bentuk cair jernih;

    bahan makanan hanya terdiri dari sumber karbohidrat;

    tidak merangsang saluran cerna dan mudah diserap;

    sangat rendah sisa;

    diberikan hanya selama 1-2 hari;

    porsi kecil dan diberikan sering.

Makanan cair jernih diberikan kepada pasien sebelum dan sesudah operasi tertentu, keadaan mual, muntah dan sebagai makanan tahap awal pasca pendarahan saluran cerna. Bahan makanan yang boleh diberikan antara lain teh, sari buah, kaldu, air gula, serta cairan mudah cerna. Makanan dapat ditambah dengan suplemen energi tinggi dan rendah sisa.

 

Diet pre operasi

  1. A.      Teoritis Diet pre operasi menurut ahli dunia

London, Lebih dari 100 tahun protokol medis, pasien biasanya tidak diperbolehkan makan setidaknya 12 jam sebelum menjalani operasi. Namun ada pendekatan baru yang mengubah kebiasaan tersebut, makan sebelum operasi justru dapat mempercepat masa pemulihan.

Dilansir dari Dailymail, Sabtu (2/10/2010), pendekatan baru ini dipelopori di akhir tahun sembilan puluhan oleh ahli bedah Denmark, Profesor Henrik Kehlet.

Menurutnya, protokol medis lama tidak memperbolehkan pasien makan 12 jam sebelum operasi. Selain itu, bila pasien menjalani operasi perut, maka ia pun tidak boleh makan sampai seminggu setelah operasi dan hanya boleh bergerak di tempat tidur selama berminggu-minggu.

Dengan demikian, tidak mengherankan bila pasien sering mengalami penurunan berat badan yang dramatis, khususnya bagi orang yang lemah dan usia lanjut. Bila dibiarkan seperti ini, pasca operasi pasien justru lebih lemah dan rentan terhadap infeksi, sehingga akan memakan waktu laama untuk pemulihan.

Bertentangan dengan tradisi konvensional, Prof Kehlet justru merekomendasikan pasien untuk diberi makanan yang kaya karbohidrat seperti kentang dan pasta sampai 6 jam sebelum operasi, serta minuman berenergi tinggi sampai 2 jam sebelum operasi.

Selain itu, setelah operasi pun pasien sebaiknya makan sesegera mungkin. Pasien juga hendaknya bangun dan banyak bergerak di hari berikutnya, bukan hanya beristirahat di tempat tidur.

Bergerak juga merupakan hal yang penting. Tidak bergerak dan hanya tidur di tempat tidur dalam waktu yang lama akan meningkatkan risiko infeksi sehingga dapat memperpanjang penyakit,” jelas Prof Kehlet.

Prof Kehlet juga mempertanyakan semua prosedur standar dan menyingkirkan semua prosedur bila tidak mendukung penyembuhan dan pemulihan pasien.

Menurutnya, alasan utama untuk tidak memperbolehkan pasien makan sebelum operasi adalah risiko kesulitan bernapas karena makanan dari lambung masuk ke paru-paru. Tetapi risiko ini ternyata sangat minimal.

Pendekatan Prof Kehlet telah diikuti di Inggris sejak tahun 2002, dipelopori oleh seorang ahli bedah kolorektal di Yeovil District Hospital dan St Mark’s Hospital.

Cara baru yang dinamakan Enhanced Recovery (ER) ini telah diam-diam merevolusi perawatan pra dan pasca operasi untuk pasien.

ER jelas merupakan kisah sukses, namun baru ada 72 rumah sakit di Inggris menggunakan teknik ini,” ujar Ian Jenkins, dokter bedah di St Mark’s Hospital, London.

 

  1. B.       Diet Pre operasi yang umum di indonesia

Jika operasi Anda akan berada di bagian dari sistem pencernaan Anda, memiliki makanan dalam sistem Anda bisa mempersulit operasi dan menyebabkan infeksi atau menyebabkan operasi dibatalkan.

Jika Anda memiliki makanan atau cairan di perut Anda selama operasi Anda, Anda bisa muntah sementara di bawah anestesi.

Janganlah makan makanan berat selama 8 – 12 ja, dan makanlah salad atau sup unuk makanan terakhir sebelum operasi.

 

Diet Post Operasi

  1. A.      Pengertian diet post operasi

Diet pasca bedah atau post operasi adalah makanan yang diberikan kepada pasien setelah menjalani pembedahan. Pengaturan makanan sesudah pembedahan tergantung pada macam pembedahan dan jenis penyakit penyerta.

Waktu ketidakmampuan pasien setelah operasi atau pembedahan dapat diperpendek melalui pemberian zat gizi yang cukup. Hal yang juga harus diperhatikan dalam pemberian diet pasca operasi untuk mencapai hasil yang optimal adalah mengenai karakter individu pasien.

 

  1. B.       Apa tujuan diet post operasi

Pengaruh operasi terhadap metabolism pasca-operasi tergantung berat ringannya operasi, keadaan gizi pasien pasca-operasi, dan pengaruh operasi terhadap kemampuan pasien untuk mencerna dan mengabsorpsi zat-zat gizi.

Setelah operasi sering terjadi peningkatan ekskresi nitrogen dan natrium yang dapat berlangsung selama 5-7 hari atau lebih pasca-operasi. Peningkatan ekskresi kalsium terjadi setelah operasi besar, trauma kerangka tubuh, atau setelah lama tidak bergerak (imobilisasi). Demam meningkatkan kebutuhan energi, sedangkan luka dan perdarahan meningkatkan kebutuhan protein, zat besi, dan vitamin C. Cairan yang hilang perlu diganti.

Tujuan diet pascabedah adalah untuk mengupayakan agar status gizi pasien segera kembali normal untuk mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dengan cara sebagai berikut:

  1. Memberikan kebutuhan dasar (cairan, energi, protein)
  2. Menggantikan kehilangan protein, glikogen, zat besi, dan zat gizi lain
  3. Memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan cairan

 

  1. C.    Syarat Diet

Diet yang disarankan adalah :

  1. Mengandung cukup energi, protein, lemak, dan zat-zat gizi
  2. Bentuk makanan disesuaikan dengan kemampuan penderita
  3. Menghindari makanan yang merangsang (pedas, asam, dll)
  4. Suhu makanan lebih baik bersuhu dingin
  5. Pembagian porsi makanan sehari diberikan sesuai dengan kemampuan dan kebiasaan makan penderita.
  6. Syarat diet pasca-operasi adalah memberikan makanan secara bertahap mulai dari bentuk cair, saring, lunak, dan biasa. Pemberian makanan dari tahap ke tahap tergantung pada macam pembedahan dan keadaan pasien

 

  1. D.    Jenis Diet dan Pemberian
    1. Diet Pasca-Bedah I (DPB I)

Diet ini diberikan kepada semua pasien pascabedah :

Pasca-bedah kecil : setelah sadar dan rasa mual hilang

Pasca-bedah besar : setelah sadar dan rasa mual hilang serta ada tanda-tanda usus mulai bekerja

Cara Memberikan Makanan

Selama 6 jam sesudah operasi, makanan yang diberikan berupa air putih, teh manis, atau cairan lain seperti pada makanan cair jernih. Makanan ini diberikan dalam waktu sesingkat mungkin, karena kurang dalam semua zat gizi. Selain itu diberikan makanan parenteral sesuai kebutuhan.

  1. Diet Pasca-Bedah II (PDB II)

Diet pasca-bedah II diberikan kepada pasien pascabedah besar saluran cerna atau sebagai perpindahan dari Diet Pasca Bedah I.

Cara Memberikan Makanan

Makanan diberikan dalam bentuk cair kental, berupa kaldu jernih, sirup, sari buah, sup, susu, dan puding rata-rata 8-10 kali sehari selama pasien tidak tidur. Jumlah cairan yang diberikan tergantung keadaan dan kondisi pasien. Selain itu dapat diberikan makanan parenteral bila diperlukan. DPB II diberikan untuk waktu sesingkat mungkin karena zat gizinya kurang. Makanan yang tidak boleh diberikan pada diet pasca-bedah II adalah air jeruk dan minuman yang mengandung karbondioksida.

  1. Diet Pascabedah III (DPB III)

DPB III diberikan kepada pasien pascabedah besar saluran cerna atau sebagai perpindahan dari DPB II. Makanan yang diberikan berupa makanan saring ditambah susu dan biskuit. Cairan hendaknya tidak melebihi 2000 ml sehari. Selain dapat diberikan Makanan Parenteral bila diperlukan. Makanan yang tidak dianjurkan untuk DPB III adalah makanan dengan bumbu tajam dan minuman yang mengandung karbondioksida.

  1. Diet pasca bedah IV

Berupa nasi Tim dan lauk Tinggi Kalori Tinggi Protein. Makanan tinggi kalori dan tinggi protein Berupa makanan seimbang.

Makanan yang dihindari :

Disesuaikan dengan kondisi klien”

Misalnya :

    Darah tinggi mengurangi konsumsi garam dan kolesterol

    Kencing manis mengurangi konsumsi gula

    Orang yang alergi terhadap makanan tertentu seperti telur, ikan asin, kacang harus dihindari

 

  1. E.     Contoh Diet Post Operasi pada kasus
    1. Diet Untuk Bedah Kantung Empedu dan Kombinasi dengan Abdomino-Perineal

Bedah pada kantung empedu yang dikombinasikan dengan Abdomino-Perineal, oral feeding biasanya diberikan di awal. Berikut adalah sebuah contoh jadwal diet yang sederhana:

Hari pertama (hari saat operasi): dipenuhi kebutuhan transfusi dan formula infus yang cukup.

Hari kedua : ditambah sejumlah kecil cairan (teh, gelatin, dan air jahe) tanpa susu atau jus buah.

Hari ketiga : cairan, termasuk susu skim dan jus buah boleh diberikan. Pemberian makanan pembuluh darah melalui infus dilanjutkan, kecuali glukosa dalam air, ditambah vitamin dapat digantikan dengan bagian dari larutan garam.

Hari keempat : sejumlah kecil campuran cairan yang mengandung tinggi protein boleh ditambahkan. Pada hari ini 1 liter protein hidrolisat dapat dihilangkan dari pemberian makanan bagi pembuluh darah.

Hari kelima : jumlah makanan boleh ditingkatkan, setidaknya 70-100 gram. Protein harus tersedia dalam oral feeding. Pemberian vitamin secara oral sudah bisa diberikan. Pemberian makan pembuluh darah melalui infus dapat dihentikan.

Hari keenam : Diet makanan biasa sudah bisa diberikan kepada pasien.

Beberapa pasien yang kantung empedunya dioperasi, mungkin lebih merasa nyaman dengan diet rendah lemak untuk beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan setelah operasi.

  1. Diet Pasca Operasi Anus/Dubur

Operasi dubur hampir sama dengan hemorrhoidectomy, pemberian makan biasanya dilakukan dalam waktu 24 jam atau sesegera mungkin, bergantung pada anastesi yang telah diatur. Beberapa pembedah lebih suka memberi diet rendah serat, dengan sisa yang terbatas untuk mengurangi pergerakan isi perut. Hal lain yang diperbolehkan diet normal dan menambah defekasi yang dibantu dengan minyak mineral.

Penggunaan jangka panjang minyak mineral dapat mengurangi karena menganggu penyerapan beberapa mineral dan vitamin.

  1. Diet Pasca Operasi Umum

Diet yang ditentukan untuk pasien yang mempunyai riwayat bedah tulang atau gigi, atau yang telah mengalami kecelakaan kecil, dapat diberi lebih dulu program diet yang lebih cepat dibandingkan dengan program diet pasca operasi gastrointestinal. Secara bertahap, pasien dapat mengkonsumsi diet berupa cairan penuh pada hari kedua setelah operasi, diet makanan lunak pada hari ketiga, dan diet makanan biasa pada hari keempat. Kondisi pasien menentukan diet yang akan dikonsumsi. Yang perlu diperhatikan adalah diet tersebut harus dapat memenuhi kebutuhan kalori dan protein. Vitamin secara bertahap diberikan sebagai suplemen.

  1. Diet Pasca Operasi Mulut dan atau Esofagus

Setelah operasi mulut atau esofagus, pemberian makanan secara parenteral yang biasanya diberikan pada pasien di awal, dengan pemberian makan dengan menggunakan tabung. Sejak pasien tinggal di rumah sakit untuk jangka waktu yang cukup lama, yang paling utama adalah formula diet yang akan diberikan harus memenuhi kebutuhan semua zat gizi. Kebutuhan cairan dapat dipenuhi secara oral, jenisnya dapat diperoleh dengan mengencerkan makanan padat, seperti kentang, daging cincang, sayuran dan buah dengan cara diblender atau disaring dan ditambahkan cairan.

 

 

 

  1. F.     Tips Perawatan pasca Operasi

Secara umum, untuk mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan kondisi pasien

pasca operasi, perlu kita perhatikan tips di bawah ini:

  1. Makan makanan bergizi, misalnya: nasi, lauk pauk, sayur, susu, buah. 
  2. Konsumsi makanan (lauk-pauk) berprotein tinggi, seperti: daging, ayam, ikan, telor dan sejenisnya. 
  3. Minum sedikitnya 8-10 gelas per hari. 
  4. Usahakan cukup istirahat. 
  5. Mobilisasi bertahap hingga dapat beraktivitas seperti biasa. Makin cepat makin bagus. 
  6. Mandi seperti biasa, yakni 2 kali dalam sehari. 
  7. Kontrol secara teratur untuk evaluasi luka operasi dan pemeriksaan kondisi tubuh. 
  8. Minum obat sesuai anjuran dokter. 

 

  1. G.    Cara pemberian Makanan selain Oral
    1. 1.         Tube feeding

Tube Feeding merupakan metode yang paling sering digunakan dalam diet pasca bedah. Ketika pasien tidak mampu untuk makan melalui mulut setelah melewati operasi, kecelakaan, pingsan, kasrinoma pada esofagus, kebutuhan zat gizi harus disuplai.

Tube Feeding biasanya dilakukan melalui saluran hidung. Pipa dimasukkan cairan yang mengandung zat gizi ke dalam tubuh secara aman menuju dinding perut. Cairan tersebut mengalir ke dalam lambung melalui rongga. Pasien membutuhkan dukungan yang besar untuk mengatur kondisi ini.

  1. 2.         Rectal Feeding

Pemberian makan kepada pasien melalui rektum akan membatasi kualitas dan kuantitas makanan yang diberikan. Makanan tidak dapat melewati katup ileocecal dengan diserap melalui usus besar.

 

  1. H.    Contoh Kasus di masyarakat

Seorang ibu muda menjalani operasi cesar (sectio caesaria) untuk melahirkan bayinya. Ketika masih di Rumah Sakit, si ibu diberi makan yang enak-enak seperti daging, telor, sup, buah, snack dan lain-lain. Eh, begitu sampai di rumah, para kerabat melarang makan ikan, daging, sayur berkuah, dan banyak larangan lainnya. Ngenes deh.

Dalam praktek sehari-hari, kejadian semacam ini masih ada. Ketika ditanya mengapa para kerabat atau tetangga melarang makan makanan tertentu, jawabannya nyaris seragam, yakni: takut luka operasi lambat kering, takut gatal dan lain-lain.
Kadang pasien atau pihak keluarga bertanya :

  1. Bolehkah makan daging, ayam, ikan ?
  2. Bolehkan makan makanan yang digoreng (berminyak)
  3. Bolehkan makan sayuran bersantan ?

Jawab: Boleh !!! Bahkan sangat dianjurkan makan makanan bergizi agar mempercepat penyembuhan luka operasi dan kondisi tubuh segera pulih kembali.

 

  1. I.       Contoh Menu Diet Post Operasi dalam 1 Hari ( Amandel )

Makanan cair dapat berupa susu, tatapi tidak boleh terlalu panas. Makanan dalam suhu dingin lebih baik karena dapat mempercepat berhentinya perdarahan. Setelah tahap makanan cair, dapat diberikan makanan dalam bentuk saring bertahap ke makanan lunak dan kembali seperti semasa sehat, sesuai dengan kemampuan pasien menerima makanan.

Contoh Menu

  1. PAGI
    Bubur Sumsum

Orak-Arik Tahu

Telur Rebus Setengah Matang

  1. Pukul 10.00

Puding caramel atau es krim

  1. Siang

Bubur Saring

  • orak-arik tahu

Sup Makaroni

Jus Pepaya

  1. Pukul 16.00

Puding

  1. Sore : Bubur saring, ayam giling bumbu, tahu kukus, sup oyong.

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kessimpulan

Pada diet pre operasi, Jika operasi Anda akan berada di bagian dari sistem pencernaan Anda, memiliki makanan dalam sistem Anda bisa mempersulit operasi dan menyebabkan infeksi atau menyebabkan operasi dibatalkan. Jika Anda memiliki makanan atau cairan di perut Anda selama operasi Anda, Anda bisa muntah sementara di bawah anestesi. Janganlah makan makanan berat selama 8 – 12 jam, dan makanlah salad atau sup unuk makanan terakhir sebelum operasi.

Diet pasca bedah atau post operasi adalah makanan yang diberikan kepada pasien setelah menjalani pembedahan. Pengaturan makanan sesudah pembedahan tergantung pada macam pembedahan dan jenis penyakit penyerta. Waktu ketidakmampuan pasien setelah operasi atau pembedahan dapat diperpendek melalui pemberian zat gizi yang cukup. Hal yang juga harus diperhatikan dalam pemberian diet pasca operasi untuk mencapai hasil yang optimal adalah mengenai karakter individu pasien.

Tujuan diet pascabedah adalah untuk mengupayakan agar status gizi pasien segera kembali normal untuk mempercepat proses penyembuhan dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dengan cara sebagai berikut:

    Memberikan kebutuhan dasar (cairan, energi, protein)

    Menggantikan kehilangan protein, glikogen, zat besi, dan zat gizi lain

    Memperbaiki ketidakseimbangan elektrolit dan cairan

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://www.detikhealth.com/read/2010/10/02/110327/1453718/763/makan-sebelum-operasi-dapat-mempercepat-masa-pemulihan

http://www.smallcrab.com/makanan-dan-gizi/617-jenis-makanan-untuk-diet

blog : windra_pasmr@yahoo.co.id

http://nuy2008.blogspot.com/2008/12/diet-pasca-operasi_19.html

http://cakmoki86.wordpress.com/2007/08/11/makan-bergizi-pasca-operasi/

http://tutorialkuliah.onsugar.com/Diet-Pasca-operasi-13748043

http://ritongadina.blogspot.com/

 

PNEUMOTHORAX

 

 

Disusun sebagai bahan presentasi

 

 

 

 

 

Disusun Oleh Kelompok 2

Windra Bangun S

 

 

 

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN DIII

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH

GOMBONG

2011

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.       Pengertian Pneumothorax

Pneumothoraks adalah keadaan terdapatnya udara atau gas dalam rongga pleura. Pada keadaan normal rongga pleura tidak berisi udara, supaya paru-paru leluasa mengembang terhadap rongga dada.

Pneumothorax dapat terjadi secara spontan / akibat trauma tembus atau tidak tembus. pneumothorax disebabkan oleh penyakit dasar seperti tuberkulosis paru disertai fibraosis atau emfisema lokal, bronkitis kronis dan emfisema.

 

  1. B.       Etiologi

Pneumothoraks dapat terjadi secara spontan atau traumatik dan klasifikasi pneumothoraks berdasarkan penyebabnya dibagi sebagai berikut :

  1. Pneumothoraks spontan

Pneumothoraks spontan adalah setiap pneumothoraks yang terjadi tiba-tiba tanpa adanya suatu penyebab

  • Pneumothoraks spontan primer (PSP)

Adalah suatu pneumothoraks yang terjadi tanpa ada riwayat penyakit paru yang mendasari sebelumnya, umumnya pada individu sehat, dewasa muda, tidak berhubungan dengan aktivitas fisis yang berat tetapi justru terjadu pada saat istirahat dan sampai sekarang belum diketahui penyebabnya.

  • Pneumothoraks spontan sekunder (PSS)

Adalah suatu pneumothoraks yang terjadi karena penyakit paru yang mendasarinya (tuberkulosis paru, PPOK, asma bronkial dsb)

  1. Pneumothoraks traumatik

Pneumothoraks traumatik adalah pneumothoraks yang terjadi akibat suatu penetrasi kedalam rongga pleura karena luka tusuk atau luka tembak atau tusukan jarum. Pneumothoraks traumatik juga ada 2 jenis yaitu

  • Pneumothoraks traumatik bukan iatragenik

Adalah pneumothoraks yang terjadi karena jelas kecelakaan misalnya jajar dinding dada terbuka / tertutup.

 

  • Pneumothoraks traumatik iatragenik

Adalah pneumothoraks yang terjadi akibat tindakan medis. Penumothoraks jenis ini masih dibedakan menjadi 2. pneumothoraks traumatik iatragenik aksidental dan pneumothoraks traumatik iatrogenik arti fisial (deliberate)

 

  1. C.       Patofisiologi

 

Gangguan pemenuhan nutrisi

         Gangguan pola tidur

Gangguan rasa nyaman

Nafsu makan menurun

Gangguan pola aktifitas

       Ketidak efektifan jalan nafas

         Gangguan pola nafas

Sesak nafas

Adanya penumpukan mucus

Nyeri dada

Ekspansi paru menurun

Obstruksi cheeck value

Alveoli pecah

Peningkatan tekanan intra pulmonal

         Udara masuk dalam kavum pleura

         Perobekan bula

Traumatik

spontan

                                                                                                                                                                                                                                                           

                                                                         

 

 

 

 

  1. D.       Gejala Klinis

Keluhan subyektif

  1. Nyeri dada pada sisi
  2. Sesak dapat sampai berat kadang bisa hilang dalam 24 jam apabila sebagian paru kolaps sudah mengembang kembali.
  3. Kegagalan pernapasan dan mungkin pula disertai sianosis.
  4. Kombinasi keluhan dan gejala klinis pneumothoraks sangat tergantung pada besarnya lesi penumothoraks.

Menurut Mills dan Luce pasien pneumothoraks spontan dapat asistomatik atau menimbulkan kombinasi nyeri dada batuk dispnea.

 

  1. E.     Komplikasi

Pneumothoraks tension ( terjadi pada 3-5% pasien pneumothoraks ), dapat mengakibatkan kegagalan respirasi akut, pio, pneumothoraks, hidro-pneumothoraks / hema – pneumothoraks, henti jantung paru dan kematian (sangat jarang terjadi) pneuma mediastinum dan emfisema subkutan sebagai akibat komplikasi pneumothoraks spontan.

Biasanya karena pecahnya esofagus atau bronkusi sehingga kelainan tersebut harus ditegakkan (insidennya sekitar 1%), pneumothoraks simulran bilateral, insidennya sekitar 2%; pneumothoraks kronik, bilateral ada selama waktu lebih dari 3 bulan, insidennya sekitar 5%.

 

  1. F.        Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pneumothoraks tergantung dari jenis pneumothoraks, derajat kolaps berat ringan gejala, penyakit dasar dan penyulit yang terjadi untuk melaksanakan pengobatan tersebut dapat dilakukan tindakan medis atau tindakan bedah.

  1. a.        Tindakan medis

Tindakan observasi, yaitu dengan mengukur  tekanan intra pleural menghisap udara dan mengembangkan paru. Tindakan ini terutama di tujukan pada penderta pneumothoraks tertutup atau terbuka sedangkan untuk pneumothoraks ventil tindakan utama  yang harus dilakukan dekompresi terhadap tekanan intra plura yang tinggi tersebut yaitu dengan membuat hubungan dengan udara luar.

  1. Tindakan dekompresi

Membuat hubungan rongga pleura dengan dunia luar dengan cara :

  1. Menusukkan jarum melalui dinding dada terus masuk kerongga pleura dengan demikian tekanan udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif karena udara yang positif di rongga pleura akan berubah menjadi negatif karena udara keluar melalui jarum tersebut.
  2. Membuat hubungan dengan udara luar melalui kontra ventil :
  • Dapat memakai infus set
  • Jarum abbocath
  • pipa water sealed drainage (WSD)

Pipa khusus (thoraks kateter) steril, dimasukkan ke rongga pleura dengan perantara troakar atau dengan bantuan klem penjepit (pean) pemasukan pipa plastik (thoraks kateter) dapat juga dilakukan me;lalui celah yang telah dibuat dengan bantuan insisi kulit dari sela iga ke 4 pada garis aksila tengah atau pada garis aksila belakang. Selain itu dapat pula melalui sela iga ke 2 dari garis klavikula tengah. Selanjutnya ujung selang plastik didada dan pipa kaca WSD dihubungkan melalui pipa plastik di dada dan pipa kaca WSD di hubungkan melalui pipa plastik lainnya posisi ujung pipa kaca yang berada  di botol sebaiknya berada 2 cm dibawah permukkaan air supaya gelembung udara dapat dengan mudah keluar melalui perbedaan tekanan tersebut.

  1. Tindakan bedah

Dengan pembukaan dinding thoraks melalui operasi duicari lubang yang menyebabkan pneumothoraks dan dijahit.

  • Pada pembedahan, apabila dijumpai adanya penebalan pleura yang menyebakan paru tidak dapat mengembang, maka dilakukan pengelupasan atau dekortisasi.
  • dilakukan reseksi bila ada bagian paru yang mengalami robekan atau bila ada fistel dari paru yang rusak. Sehingga paru tersebut tidak berfungsi dan tidak dapat dipertahankan kembali.
  • pilihan terakhir dilakukan pleurodesis dan perlekatan antara kedua pleura ditempat fistel.

 

 

 

  1. G.       Pemeriksaan Penunjang

Analisa gas darah arteri memberikan gembaran hipoksemia meskipun pada kebanyakan pasien sering tidak diperlukan pneumotoraks primer paru kiri sering menimbulkan perubahan aksis QRS dan gelombang T, prekardial pada gambaran rekaman elektro kardiografi (EKG) dan dapat ditafsirkan sebagai infark mionard akut (IMA). Pada pemeriksaan foto dada tampak gambaran sulkus kostafrenikus radiolusen, sedang pneumothoraks tension pada gambaran foto dadanya tampak jumlah udara hemotoraks yang cukup besar dan susunan mediastinum kontralateral bergeser.

Pada foto dada PA, terlihat pinggir paru yang kollaps berupa garis pada pneumothoraks parsialis yang lokalisasinya di anterior atau porterior batas pinggir paru ini mungkin tidak terlihat.

Mediastinal ships” dapat dilihat pada foto PA atau fluoroskopi pada saat penderita inspirasi atau ekspirasi, terutama dapat terjadi pada “tension pneumothoraks”

 

  1. H.       Asuhan Keperawatan
    1. 1.        Pengkajian
      1. Identitas klien

Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, no. register, diagnosa medis, dan tanggal MRS.

  1. Keluhan utama

Pasien mengeluh sesak nafas dan nyeri di bagian dada.

  1. Riwayat penyakit sekarang

Pada umumnya didapatkan keluhan utama pada klien seperti sesak nafas dan nyeri di bagian dada.

  1. Riwayat penyakit dahulu

Biasanya dikaitkan dengan penyakit yang sama pada masa sebelumnya.

  1. Riwayat penyakit keluarga

Meliputi susunan keluarga dengan penyakit yang sama (pneumothoraks), ada/tidak dalam anggota keluarganya yang menderita penyakit menular, turunan.

  1. 2.        Pola-pola fungsi kesehatan
    1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.

Kaji kebiasaan pasien tentang melaksanakan hidup sehat seperti mandi, sikat gigi dan makan atau periksa kalau sakit.

  1. Pola nutrisi dan metabolisme.

Pada pasien pneumothoraks bisa mengalami penurunan nafsu makan karena nyeri pada dada / nyeri telan

  1. Pola eliminasi.

Kaji kebiasaan BAB atau BAK apakah ada perubahan atau tidak pada pasien pneumothoraks.

  1. Pola tidur dan istirahat.

Pada pasien pneumothoraks biasanya mengalami gangguan pola tidur diakibatkan sesak / nyeri pada bagian dada.

  1. Pola sensori dan kognitif.

Pada pasien pneumothoraks biasanya tidak mengalami kelainan (normal)

  1. Pola aktifitas.

Biasanya pada pola aktivitas mengalami gangguan karena nyeri.

  1. Pola reproduksi sexual.

Kaji jenis kelamin pasien, mengalami gangguan dalam melaksanakan hubungan seksual apa tidak kelainan pada alat genitalia.

  1. Pola hubungan peran.

Apakah mengalami gangguan dalam menjalankan perannya seshari-hari.

  1. Pola penanggulangan stress.

Kaji kebiasaan pasien dalam menghadapi masalah / stres.

  1. 3.        Pemeriksaan Fisik
    1. Keadaan umum

Pasien lemah, bedres

  1. Kulit, rambut, kuku

Keadaan kulit, rambut dan kuku

  1. Kepala, leher

Biasanya pada kasus pneumothorak kepala dnleher tidak mengalami gangguan

  1. Mata

Pada kasus mata tidak mengalami gangguan

  1. Telinga, hidung, dan tenggorokan

Biasanya tidak mengalami gangguan

  1. Thorak dan abdomen

Dada tampak gambaran sulkus kostafrenikus radiolusen

  1. Sistem respirasi

Biasanya mengalami Pernafasan sesak kumaul cepat dan dalam

  1. Sistem kardiovaskuler

Pada kasus pneumothorak denyut jantung mengalami gamgguan

  1. Sistem genitourinaria

Biasanya mengalami gamgguan

  1. Sistem gastrointestinal

Biasanya mengalami gangguan

  1. Sistem muskuloskeletal

Pada kasus ini pasien mengalami kelemahan

  1. Sistem endokrin

Biasanya pada kasus ini sistem endokrin tidak mengalami gangguan

  1. Sistem persyarafan

Biasanya Pasien sering merasa gelisah.

  1. 4.        Masalah Keperawatan
    1. Pola napas tak efektif b/d : Gangguan ekspansi paru sekunder terhadap: akumulasi cairan(hidrotoraks/hemotoraks) / udara(pneumotoraks) dalam rongga pleura, luka dada menghisap (sucking chest wound), flail chest
    2. Kerusakan pertukaran gas b/d Perubahan membran alveolar-kapiler, edema pulmonal, emboli paru Hipoventilasi, retensi CO2.
    3. Gangguan rasa nyaman (peningkatan suhu) berhubungan dengan adanya peradangan parenkim paru ditandai dengan pasien mengatakan badannya terasa panas.
    4. Nyeri (akut) b/d cedera parenkim paru
    5. Ansietas/ketakutan b/d krisis situasional
    6. 5.        Intervensi

No Dx

Intervensi

 

Rasional

1

   Beri penjelasan pada pasien tentang penyebab sesak

Beri posisi semi fowler.

 

Beri terapi oksigen sesuai kebutuhan

Monitor TTV klien

 

   Untuk menambah pengetahuan pada pasien

Memaksimalkan ekspansi paru

Untuk mengurangi sesak

 

untuk mendeteksi secara dini ketidak normalan dan untuk mengetahui tingkat perkembangan pasien

2

   Pantau status pernafasan tiap 8 jam , pantau TTV tiap 4 jam, dan pantau analisa gas darah juga foto rongen

Pertahankan posisi semi fowler atau fowler

Berikan terapi oksigen tambahan sesuai anjuran, sesuaikan kecepatan aliran dengan hasil analisa gas darah

    Untuk mengidentifikasi kemajuan – kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan

Untuk memaksimnalkan ekspansi paru

Pemberian oksigen tambahan dapat menurunkan kerja pernafasan dengan menyediakan lebih banyak oksigen

3

   Kaji terhadap adanya nyeri (lokasi, durasi)

Berikan posisi semi fowler atau nyaman terhadap letak selang dada.

 

 

 

Monitor letak selang dan sistem draenage

 

 

 

Bantu pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan kebutuhannya.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik.

 

    Untuk mengevaluasi derajat nyeri

Posisi yang menekan dan tidak nyaman dapat menumbuhkan rasa nyeri klien.

Letak selang yang menekan jaringan luka dapat menimbulkan nyeri.

Untuk menjaga resiko cidera

 

Analgesik dapat meningkatkan nilai ambang nyeri pada susunan syaraf pusat tanpa menekan kesadaran.

 

4

   Berikan analgesik sesuai anjuran untuk mengatasi nyeri, konsultasi kedokter jika analgesik tidak efektif

Berikan tindakan untuk memberikan rasa nyaman dengan cahaya yang redup dan menciptakan lingkungan yang tenang

Konsultasi pada dokter jika nyeri makin memburuk

 

Bantu pasien dalam ber ambulasi sesuai dengan kebutuhannya

    Analgetik membantu mengontrol nyeri dengan memblok jalan rangsang nyeri

Tindakan ini akan meningkatkan relaksasi

 

 

 

 

Hal tersebut bisa menjadi tanda komplikasi

Untuk menjaga tidak terjadi cidera

5

   Tetap dampingi pasien atau meminta keluarga untuk mendampingi

Pertahankan pendekatan yang tenang dan percaya diri

Batasi pengunjung

 

 

 

Berikan penkes pada pasien dan keluarga mengenai penyakit

    Ansietas akan berkurang

 

Untuk memotifasi klien

 

Memberikan kenyamanan karena pengunjung dapat menimbulkan stres

Agar klien tidak cemas dengan kondisinya

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.    Kesimpulan

Pneumothorax dapat terjadi secara spontan / akibat trauma tembus atau tidak tembus. pneumothorax disebabkan oleh penyakit dasar seperti tuberkulosis paru disertai fibraosis atau emfisema lokal, bronkitis kronis dan emfisema.

Dalam hal ini perawat sebagai salah satu tim yang secara langsung dalam menghaapi klien haruslah melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik, dikarenakan akan dapat mengakibatkan mudahnya terjadi infeksi atau komplikasi yang lainnya dikarenakan tindakan keperawatan yang tidak sesuai dengan prosedur keperawatan.

Kita sebagai seorang perawat diharapkan dapat melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan prioritas masalah yang terjadi pada klien. Dan dalam pelaksanaan tersebut perawat harus mampu melindungi dirinya dari penularan penyakit yang diderita oleh pasien tersebut. Selain itu perawat dapat memperendah atau mengurangi resiko terjadinya infeksi dengan cara perawatan yang aseptik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Mansjoen, Arif dkk, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Media Assculapius, Jakarta, 2001

Himpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2001, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi III Jilid II, Jakarta. Balai Penerbit FKUI.

 

 

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

 

JUDUL LAPORAN :

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

GLAUCOMA

 

 

Di susun oleh :

Windra Bangun Sucipto

(A01001394)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH

GOMBONG

2012

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

 

  1. Judul Laporan                                                 : LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN

KEPERAWATAN GLAUCOMA

  1. Bidang kegiatan                                  : keperawatan
  2. Pelaksana
    1. Nama                                            : Windra Bangun S
    2. Nim                                              : A01001394
    3. Program Studi                              : DIII Keperawatan
    4. Perguruan Tinggi              : STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
    5. Alamat Rumah dan Nomor Hp    : Ds. Sidoharum Rt 03 / 01 Sempor, Hp

085747151451

  1. Tempat Pengkajian                              : RSU Purbowangi
  2. Ruang Pengkajian                               : Mata
  3. Alamat Email                                      : Haendy_taifibz@yahoo.com

 

Gombong, 8 mei 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN GLAUCOMA

 

Windra Bangun sucipto

NIM A01001394

Program Studi D III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

Jln. Yos Sudarso No. 461 Gombong 54412, telp / fax. 0287472433

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

GLAUCOMA

 

  1. A.       Pengertian Glaucoma

Glaucoma merupakan kelainan mata yang dicirikan dengan rusaknya saraf optikyang berfungsi untuk membawa pesan-pesan cahaya dari mata ke otak. Kerusakan saraf optik ini disebabkan oleh kelebihan cairan humor yang mengisi bagian dalam bola mata. Cairan mata yang diproduksi oleh jaringan-jaringan di depan bola mata ini sebenarnya berfungsi untuk membawa makanan untuk kornea dan lensa mata. Cairan mata juga akan mempertahankan tekanan di dalam bola mata agar bentuknya tetap terjaga dengan baik. Tekanan yang dihasilkan oleh cairan mata disebut tekanan intraokuler.

Glaucoma adalah penyakit mata akibat dari tekanan intra okular (TIO) yang tinggi, dimana didapatkan tekanan TIO tinggi, kelainan syaraf optik dan kelainan lapangan pandang

Patokan pengukuran :

  1. Tekanan Intra Okular normal 15-20 mmHg.
  2. Tekanan > 21 mmHg sudah harus diikuti teliti
  3. Tekanan Intra Okular dipertahankan karena adanya dinamika akuos humor dalam mata. Gangguan dari dinamika ini akan mengakibatkan TIO naik/ tinggi, terjadi glaukoma

 

  1. B.       Beberapa Definisi Glaucoma

Glaucoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996)

Glaucoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa peninggian tekanan bola mata, penggaungan papil saraf optik dengan defek lapang pandangan mata.(Sidarta Ilyas,2000).

Glaucoma adalah suatu keadaan tekanan intraokuler / tekanan dalam bola mata relatif cukup besar untuk menyebabkan kerusakan pupil saraf optik dan menyebabkan kelainan lapang pandang ( ekantini, 2003 ).

 

  1. C.       Patofisiologi Glaucoma

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                     ( Windra, 2012 )

  1. D.       Klasifikasi Glaucoma
    1. Glaucoma primer

Penyebab tidak diketahui

Didapatkan pada orang yang memiliki bakat glaucoma (struktur) yang berhubungan dengan sirkulasi / reabsorbsi / outflow aquoshumor mengalami perubahan patologis / degeneratif.

Gangguan pengeluaran aquos humor (BMD sempit).

Kelainan pertumbuhan sudut BMD (ganiosdisgenesis = Trabekulogenesis, iridogenesis, korniodigenesis)

Glaukoma primer dibagi menjadi :

  1. Glaucoma sudut terbuka

Merupakan sebagian besar dari glaucoma ( 90-95% ) , yang meliputi kedua mata. Timbulnya kejadian dan kelainan berkembang secara lambat. Disebut sudut terbuka karena humor aqueousmempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular. Pengaliran dihambat oleh perubahan degeneratif jaringan rabekular, saluran schleem, dan saluran yg berdekatan. Perubahan saraf optik juga dapat terjadi. Gejala awal biasanya tidak ada, kelainan diagnose dengan peningkatan TIO dan sudut ruang anterior normal. Peningkatan tekanan dapat dihubungkan dengan nyeri mata yang timbul.

  1. Glaucoma sudut tertutup (sudut sempit).

Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqueous mengalir ke saluran schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua. Gejala yang timbul dari penutupan yang tiba- tiba dan meningkatnya TIO, dapat berupa nyeri mata yang berat, penglihatan yang kabur dan terlihat hal. Penempelan iris menyebabkan dilatasi pupil, bila tidak segera ditangani akan terjadi kebutaan dan nyeri yang hebat.

  1. Glaucoma sekunder

Dapat terjadi dari peradangan mata , perubahan pembuluh darah dan trauma . Dapat mirip dengan sudut terbuka atau tertutup tergantung pada penyebab yaitu Perubahan lensa, Kelainan uvea, Trauma bedah

  1. Glaucoma kongenital
    1. Primer atau infantil
    2. Menyertai kelainan kongenital lainnya
  2. Glaucoma absolut

Merupakan stadium akhir glaucoma ( sempit/ terbuka) dimana sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut.

Pada glaucoma absolut kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan eksvasi glaucomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa sakit.sering mata dengan buta ini mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskulisasi pada iris, keadaan ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya glaukoma hemoragik.

Pengobatan glaucoma absolut dapat dengan memberikan sinar beta pada badan siliar, alkohol retrobulber atau melakukan pengangkatan bola mata karena mata telah tidak berfungsi dan memberikan rasa sakit.

 

  1. E.       Manifestasi Klinis
    1. Glaucoma Akut

Rasa sakit hebat menjalar ke kepala disertai mual, muntah, mata merah dan bengka, tajam penglihatan menurun, dan melihat lingkaran seperti pelangi. Pada pemeriksaan dengan lampu senter telihat injeksi konjungtiva, injeksi siliar, komea ruram karena sembab, reaksi pupil hilang atau melambat, kadang pupil midriosis, kedua bilik mata depan dangkal.

  1. Glaucoma Kronik

Dari riwayat keluarga ditemukan beberapa anggota keluarga dalam garis vertikal atau horisontal yang memiliki penyakit serupa. Gejala-gejala yang terjadi akibat peningkatan tekanan bola mata, penyakit ini berkembang secara lambat tapi pasti. Penampilan bola mata seperti normal dan sebagian besar tidak mempunyai keluhan pada stadium dini. Pada stadium lanjut keluhannya berupa pasien sering menabrak karena pandangan lebih gelap, lebih kabur, palang pandang menjadi sempit, hingga kebutaan permanen.

 

  1. F.        Penatalaksanaan

Tujuan Farmakologi adalah untuk mempertahankan kontraksi pupil agar pengaliran humor aqueus lebih baik dan produksi humor aqueus dapat dikurangi dan pemberian obat diharapkan haruslah sesuai dengan anjuran.

  1. Glaucoma sudut terbuka / simplek
    1. Obat-obat miotik

Golongan kolinergik ( pilokarpin 1-4 % 5 kali sehari) Karbakol 0,75 – 3%

Golongan antikolineoterase (demekarium bromid, humorsol 0,25 %) pilokarpin 0,25.

  1. Obat-obat penghambat sekresi aqioshumor (adrenergik)

Timolol (tetes 0,25 dan 0,5 % 2 x sehari)

Epineprin 0,5 – 2 % 1-2 x sehari

  1. Carbonican hidrase inhibitor

Asetazolamid (diamok 125-250 mg 4 x sehari

Diklorfenamid (metazolamid)

  1. Trabekuloplatilaser dan iridektomi
  2. Tindakan bedah trabekulektomi
  3. Glaucoma sudut tertutup / akut
    1. Bahan hiperosmotik

Gliserin (gliserol) p.o 1cc / kg BB. Dalam larutan 50 % air jeruk

Manitol 20 % IV. 1-2 gram / Kg BB diberikan 60 tetes / menit.

  1. Miotikum pilokarpin 2-4 % 1 tts 3 x 5 menit kemudian 1 tts. 30 menit /2 jam. Selanjutnya 1 tts / jam sampai operasi.
  2. Karbonikan hidrase inhibitor

Asetasolamit langsung 500 mg / oral (2 tablet) lalu tiap 4 jam 250 mg.

  1. Operasi filtrasi

 

  1. G.       Pemeriksaan Fisik Mata yang Normal
    1. Palpebra : Penderita melihat lurus ke depan maka pinggir palpebra atas akan menutupi limbus atas (pinggir kornea) selebar 1 – 2 mm.
    2. Konjungtiva : Hiperemi pada glaukoma, Normalnya tidak berwarna.
    3. Kornea : normalnya bening
    4. BMD ( Bilik Mata Depan ) normalnya cukup dalam dan jernih
    5. Pupil : Normalnya mata kiri dan kanan sama lebarnya dan simetris
    6. Lensa mata : Normalnya Jernih

 

  1. H.       Pengkajian Fisik Mata yang Bisa Dilakukan
    1. a.         Tanometer

Tanometer Schiotz alat ini paling sering dipakai dan mudah penggunaanya.

Tanometer aplanasi dengan alat ini didapatkan hasil yang lebih cermat, tetapi memelurkan slitlamp biomikroskop (mahal).

  1. b.        Periksa papil syaraf optik

Alat oftalmoskop

Dilihat papil syaraf optik apakah ada cekungan akibat tekanan yang tinggi (“excavatio” = “cupping”).

Luas cekungan dibanding dengan keseluruhan disk=cup / disc ratio (c/d ratio).

Normal : c/d ratio 0- 0,3

> 0,3 curiga adanya kelainan (kemungkinan juga kongenital).

  1. c.         Pengkajian Ketajaman Penglihatan

Dilakukan di kamar yang tidak terlalu terang dengan kartu Snellen. Pasien duduk dengan dengan jarak 6 meter dari kartu Snellen dengan satu mata ditutup. Pasien diminta membaca huruf yang tertulis pada kartu, mulai dari baris paling atas kebawah, dan tentukan baris terakhir yang masih dapat dibaca seluruhnya dengan benar

V = D/d

V = Visus

D = Jarak yang dapat dilihat oleh mata normal

d = jarak yang dapat dilihat oleh penderita

  1. d.        Pengkajian Gerakan Mata

Uji Menutup, salah satu mata pasien di tutup dengan karton atau tangan pemeriksa, dan pasien di minta memfokuskan mata yang tidak tertutup pada satu benda diam sementara mata yang di tutup karton atau tangan tetap terbuka. Kemudian karton atau tangan tiba-tiba di singkirkan, dan akan nampak gerakan abnormal mata

  1. e.         Pengkajian Lapang Pandang

Pemeriksa dan pasien duduk dengan jarak 1 sampai 2 kaki, saling berhadapan. Pasien di minta menutup salah satu mata dengan karton, tanpa menekan, sementara ia harus memandang hidung pemeriksa.

Pemeriksaan lapang pandang teknik konfrontasi dengan pemeriksa dalam jarak 60cm, pasien meminta pandangan fokus ke depan lalu tangan pemeriksa kesamping dan klien diminta untuk memberi tanda jika bisa melihat.

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S

PASIEN GLAUCOMA

DI RSU PURBOWANGI

 

 

Di Susun oleh :

Windra Bangun S

A01001394

 

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH

GOMBONG

 

2012

LAPORAN KASUS

 

Tanggal masuk                            : 1 januari 2012

Tanggal pengkajian                     : 1 januari 2012

Pengkaji                                      : Windra Bangun S

  1. A.       Biodata
    1. Identitas Pasien

Nama                             : Tn. S

Umur                              : 45 tahun

Jenis Kelamin                 : Laki – laki

Agama                           : Islam

Status                             : Kawin

Alamat                           : Ds. Sidoharum, Sempor

Suku                               : Jawa

Kebangsaan                   : Indonesia

  1. Identitas Penanggung Jawab

Nama                             : Ny. W

Umur                              : 36 tahun

Jenis Kelamin                 : Perempuan

Agama                           : Islam

Alamat                           : Ds Sidoharum, sempor

Hubungan                      : Isteri

 

  1. B.       Riwayat Kesehatan
    1. 1.        Keluhan Utama

Klien mengeluh nyeri pada mata dan pandangannya kabur saat melihat cahaya tidak kuat

  1. 2.        Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien masuk ke Rumah Sakit Purbowangi tanggal 1 januuari 2012 dengan keluhan utama nyeri pada mata, pandangannya kabur dan ada lingkaran terang jika melihat bola lampu atau sumber cahaya.

  1. 3.        Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien mengatakatan nyeri sejak 2 minggu lalu dan penglihatannya kurang jelas bahkan muncul lingkaran terang saat melihat sumber – sumber cahaya. Klien mengatakan punya riwayat sakit magh

  1. 4.        Riwayat Kesehatan Keluarga

Pasien mengatakan ibunya menderita myopia atau minus 8, juga anak ke tiganya perempuan juga menderita miyopi ( minus 1 kiri dan kanan silinder 1/2 )

 

Genogram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan

Perempuan                                 Laki – laki

 

Pasien                                         Sakit lain

 

Serumah                                     Pisah

 

 

 

  1. C.       Pola Fungsional
    1. 1.        Pola Nafas

Sebelum sakit      : Klien mengatakan sehat biasa tidak pernah mengalami sesak

Saat dikaji           : Klien mengatakan tidak sesak nafas dan tidak adanya tanda sesak nafas

  1. 2.        Pola Nutrisi dan Metabolik

Sebelum sakit      : Klien mengatakan makan 3x sehari dengan menu nasi, lauk dan sayur seadanya, serta minum kira kira 7gelas tiap hari. Klien nampak sehat, segar.

Saat dikaji           : Klien mengatakan makan 2x sehari dibuatkan isteri klien dengan menu nasi, tahu, telur,sayur dan minum teh. Klien juga sehat.

  1. 3.        Pola Eliminasi

Sebelum sakit      : Klien buang air besar 1x sehari warna kuning, padat dan lancar serta Buang air kecil 7x kira kira sehari dengan warna bening kekuningan.

Saat dikaji           : Klien mengatakan buang air besar rata – rata 1x dalam sehari, warna kuning , padat, namun terkendala sulit saat pergi ke wc jika gelap.

  1. 4.        Pola Tidur dan Istirahat

Sebelum sakit      : Klien mengatakan tidur 6 – 7 jam karena kadang berkumpul dengan rekan sebaya di kampungnya.

Saat dikaji           : Klien mengatakan tidur 5 – 6 jam saat sakit karena nyeri dan terbangun kadang – kadang.

  1. 5.        Pola Aktivitas

Sebelum sakit      : Klien tidak pernah mengalami gangguan gerak tubuh, klien biasa jalan pagi dan membaca koran serta menonton Tv jika waktu senggang dan sore kesawah.

Saat dikaji           : Klien mengatakan pusing jika membaca koran lama bahkan tidak pernah menonton TV lagi dan jarang berpergian memakai motor karena takut kurang jelas penglihatannya dan pusing.

 

 

  1. 6.        Kebutuhan Berpakaian

Sebelum sakit      : Klien mengatakan senang pakai kaos saat di rumah dan saat berpergian memakai batik

Saat dikaji           : klien mengatakan senang memakai batik saat pergi namun sekarang jarang berpergian

  1. 7.        Mempertahankan suhu tubuh

Sebelum sakit      : klien mengatakan nyaman menggunakan kaos berbahan katun dengan lengan panjang saat dirumah

Saat dikaji           : klien mengatakan tidak sedang merasa sakit atau demam, bahkan biasa saja hanya terasa lelah dan pusing.

  1. 8.        Kebutuhan Personal hygine

Sebelum sakit      : klien mengatakan mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari, dan saat mandi pun keramas 3x seminggu.

Saat dikaji           : Klien mengatakan mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari, dan saat mandi keramas 1x seminggu

  1. 9.        Kebutuhan rasa aman dan nyaman

Sebelum sakit      : Klien mengatakan merasa nyaman dirumah karena bisa berkumpul dengan keluarga, isteri dan anaknya.

Saat dikaji           : Klien mengatakan bingung saat ditinggal dirumah sendirian, takut ada apa – apa dan tidak bisa keluar rumah.

  1. 10.    Kebutuhan Interaksi dan mengekspresikan rasa takut

Sebelum sakit      : Klien mengatakan berkomunikasi dengan anak – anaknya menggunakan telepone seluler jika sedang kangen anak pertamanya di jakarta, dan klien senang bercerita masalah kepada isteri juga teman sebayanya.

Saat dikaji           : Klien mengatakan mengungkapkan ketakutannya akan kebutaan jika sakit ini berlanjut kepada Isterinya.

  1. 11.    Kebutuhan spiritual

Sebelum sakit      : klien mengatakan shalat rutin 5 waktu, taat ibadah.

Saat dikaji           : klien mengatakan Shalat rutin 5 waktu, dan taat ibadah

  1. 12.    Kebutuhan bekerja

Sebelum sakit      : klien adalah petani yang rajin, dikenal aktif dan enerjik serta aktif di kampungnya

Saat dikaji           : Klien mengatakan aktifitas bekerja sedikit berkurang karena dihabiskan untuk istirahat dan tidak pernah berpergian lagi jika sendiri.

  1. 13.    Kebutuhan bermain dan rekreasi

Sebelum sakit      : klien menyukai pemandangan dan suasana alam, klien hanya jalan jalan sambil olahraga.

Saat dikaji           : klien tidak mungkin melakukan aktifitas ini, dan sementara melakukan apapun di kamar.

  1. 14.    Kebutuhan belajar akan Rasa ingin tahu

Sebelum sakit      : Klien mengatakan senang membaca koran, buku – buku pertanian ataupun nuntun TV

Saat dikaji           : Klien mengatakan kurang membaca koran, bahkan tidak pernah menonton televisi seperti dulu.

 

  1. D.       Pemeriksaan Fisik
    1. a.        Inspeksi

Kepala : simetris rambut lebat dan mulai beruban

Alis                                     : Bulu alis tebal, hitam

Bulu Mata                           : Bulu mata lebat, panjang, hitam

Kelopak Mata                     : Sayu, ada kantung mata

Konjungtiva                        : hiperemi

Kornea                                : Bening

Sclera                                  : Kekuningan

Pupil                                    : Melebar

  1. b.        Palpasi

Adanya nyeri tekan di temporalis, dan lakrimalis dan nyeri seperti menjalar kepala

  1. c.         Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan kwalitas retina ( E.R.G = electro retino gram )

Pemeriksaan Tonografi : TIO meningkat 31 mmHg

Pemeriksaan Ketajaman mata ( Visus )

V = D/d

V = 6/20 pada snellen jarak 6 meter

 

Pemeriksaan gerak mata

Akomodasi mata baik namun kadang juling saat melihat fokus

Pemeriksaan lapang pandang

Menggunakan konfrontasi Pada sudut 90˚ pasien tidak dapat melihat gerak jari namun di sudut 75˚ – 80˚ baru pasien berespon.

 

  1. E.       Program Terapi

No

Terapi

Bentuk

Indikasi

Dosis

1

Timol

Tetes

Menurunkan TIO

2 x 1

2

Carphine

Tetes

Mengecilkan pupil

2 x 1

3

Vitanorm

Oral ( tablet )

Vitamin mata

2 x 1

 

  1. F.        Analisa Data

No

Data

Etiologi

Problem

1

Ds.

Klien mengatakan penglihatannya kabur

Klien mengatakan saat membaca sering salah baris, dan mudah lelah

Do.

Kelopak mata sayu dan ada kantung mata

Konjungtiva hiperemi

Sclera kekuningan

Uji visus 6/18

Juling saat melihat vokus

 

 

Efek peningkatan aquos humor

 

Gangguan persepsi sensori

2

Ds.

Klien mengatakan pusing

Klien mengatakan matanya terasa perih

Klien mengatakan lelah untuk melihat

Klien mengatakan nyeri saat di tekan temporalisnya dan lakrimalisnya yang menjalar ke kepala

Klien mengatakan pegal matanya

Do.

Klien nampak sering memegang kepalanya

Klien nampak menekan – nekan pinggir matanya

Pemeriksaan tonografi TIO meningkat 31 mmhg

Kelopak mata berkantung

 

Agen cidera biologis peningkatan Tekanan intra okuler

 

Nyeri

3

Ds.

Klien mengatakan takut kondisi ini akan menjadi parah hingga buta

Klien mengatakan takut dikucilkan saat bergaul dengan teman – teman karena keadaannya

Do.

Klien nampak sering melamun dan kaget saat ditanya

Klien berkeringat jika sedang ditanya

 

 

 

Ancaman perubahan status kesehatan takut akan kebutaan jika berlanjut

 

Anxietas

 

 

 

  1. G.       Prioritas Diagnosa Keperawatan
    1. Gangguan rasa nyaman Nyeri berhubungan dengan agen cidera biologis Peningkatan tekanan Intra Okuler
    2. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan efek peningkatan aqous homor
    3. Kecemasan berhubungan dengan ancaman perubahan status kesehatan takut akan kebutaan jika berlanjut.

 

  1. H.       Intervensi Keperawatan

Tanggal

No Dx

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

1 januari 2012

1

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam nyeri berkurang hingga hilang

Kriteria Hasil :

TIO menurun

Nyeri berkurang hingga hilang

Keadaan umum tenang

Dapat beristirahat dengan baik

 

 

 

Kaji tingkat nyeri klien

 

 

 

 

Beri posisi yang nyaman untuk pasien

 

Ajarkan teknik relaksasi distraksi atau mendengarkan musik

 

Kolaborasikan pemberian analgetik dan obat penurunan aqous humor

 

   Untuk menentukan tindakan dan tingkat keberhasilan

 

Diharapkan dapat istirahat dengan baik

 

Untuk mengalihkan rasa nyeri agar sedikit lebih aman

 

 

produksi aqoeous humor menurun dan hambatan berkurang serta IOP ¯

1 januari 2012

2

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan segera, diharapkan tidak terjadi kehilangan penglihatan yang berlanjut

 

Kriteria Hasil :

Klien kooperatif dalam tindakan

Tidak terjadi penurunan visus

 

 

Pastikan derajat kehilangan ketajaman mata

 

Anjurkan pasien menengok ke samping setiap sisi

 

Jaga kebersihan mata

 

 

Turunkan bahaya keamanan yang dapat menjadi resiko cidera

 

Kolaborasikan pemberian obat untuk mencegah trauma berlanjut

 

Untuk menentukan kemampuan penglihatan dan tindakan

 

Untuk menambah lapang pandang

 

 

 

Untuk menjaga kondisi agar tidak menjadi lebih buruk

 

Untuk mengurangi resiko cidera yang timbul karena penglihatan terganggu

 

Diharapkan obat efektif untuk pencegahan agr tidak berlanjut

 

 

3

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1×24 jam diharapkan kecemasan berkurang dan termotivasi untuk sembuh.

Kriteria Hasil :

Klien mampu mengungkapkan kecemasannya

Klien mampu mengungkapkan usaha untuk keluar dari cemas

Klien memahami tujuan pengobatan

 

Kaji tingkat kecemasan

 

 

 

Berikan kesempatan klien mengekspresikan dirinya baik mengenai emosi atau harapan

 

Pertahankan kondisi yang senyaman mungkin

 

 

Berikan penjelasan mengenai prosedur perawatan, pengobatan, perjalanan penyakit

 

Berikan pengertian pada keluarga untuk memotivasi untuk sembuh

 

Untuk mengetahui sejauh mana cemas

 

Mengekspresikan perasaan bisa menjadikan alat untuk tau sumber kecemasan klien

 

 

 

 

Dengan suasana nyaman dan tenang dapat menurunkan kecemasan

 

Agar klien mengetahui secara pasti mengenai gambaran penyakitnya

 

 

 

Agar kecemasan hilang dan pasien semangat untuk menjalani pengobatan

 

 

  1. I.          Implementasi

Waktu

No Dx

Implementasi

Respon

Ttd

1 januari 2012

10.00

1

   Mengkaji tingkat nyeri klien

Memberikan dan mengupayakan posisi nyaman untuk klien

Mengajarkan teknik distraksi relaksasi

Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik dan obat penurun aquos humor

 

 

  Nyeri pada skala 8

 

Klien nampak nyaman dan mengungkapkanya

 

Klien kooperatif dan nampak patuh

Klien nampak lebih berkurang nyerinya ditandai dengan tidak mengeluh seperti awalnya

 

10.15

2

   Memastikan derajat kehilangan ketajaman mata

Mengkaji keadaan fisik mata

 

 

 

Menjaga kebersihan mata pasien

 

Menurunkan bahaya lingkungan yang dapat membahayakan pasien

Berkolaborasi dengan dokter pemberian vitamin mata dan tetes mata untuk mengatasi

  Klien mengungkapkan ketakutannya

 

Pupil melebart, sclera kekuningan, adanya nyeri tekan,, lapang pandang menurun, visus menurun

Mata pasien tidak ter iritasi dari benda asing dari luar

Lingkungan aman dan pasien lebih leluasa tanpa ada takut jatuh

 

Pasien mulai tenang tidak pegal seperti awal

 

11.00

3

   Mengkaji tingkat kecemasan pasien

Memberi kesempatan pada pasien mengekspresikan harapan dan emosinya

Mempertahankan kondisi senyaman mungkin

Menjelaskan prosedur perawatan dan pengobatan

Memberi pengertian pada keluarga pasien untuk mendukung dan memotivasi agar klien segera bersemangat

  Pasien mengatakan takut buta

Klien terlihat sedih dan ingin sekali segera sembuh

 

Klien nampak setengah tiduran

 

Pasien nampak lebih tenang dan mengatakan akan berusaha mengikuti

Keluarga mendukung penuh proses pengobatan pasien dan selalu menunggu

 

 

  1. J.         Evaluasi
Tanggal

Diagnosa keperawatan

implementasi

Evaluasi

1/januari 2012 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan    Mengkaji tingkat nyeri klien

Memberikan dan mengupayakan posisi nyaman untuk klien

Mengajarkan teknik distraksi relaksasi

Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik dan obat penurun aquos humor

S.

Klien mengatakan setelah dilakukan tindakan dan juga ditetes obat nyeri berkurang

O.

Klien nampak tidak lagi menahan sakit

Klien nampak tidak memegang matanya lagi

Klien nampak tenang dan tidak merintih sakit lagi

A.

Nyeri sementara berkurang dan mulai hilang setelah dilakukan tindakan serta meneteskan obat

P.

Lanjutkan intervensi terus selama klien dalam proses pengobatan

Berikan posisi nyaman

Ajarkan distraksi relaksasi

Beri obat sesuai anjuran dokter

 

1/januari 2012 Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan efek peningkatan aqous homor

 

   Memastikan derajat kehilangan ketajaman mata

 

Mengkaji keadaan fisik mata

 

Menjaga kebersihan mata pasien

 

Menurunkan bahaya keamanan dari lingkungan yang dapat membahayakan pasien

 

Berkolaborasi dengan dokter pemberian vitamin mata dan tetes mata untuk mengatasi

S.

Pasien mengatakan setelah dilakukan beberapa tindakan, pasien merasa lebih baik

O.

Keadaan mata lebih bersih

Kekurangan ketajaman dipertahankan

Lingkungan bebas dari bahaya yang dapat menjadi resiko cidera pasien

 

A.

Masalah klien sedikit teratasi

P.

Lanjutkan Intervensi

Kaji ketajaman mata

Kaji keadaan fisik mata

Jaga kebersihan mata

Ciptakan lingkungan aman dari resiko cidera

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberianobat dan vitamin yang tepat

 

1/januari 2012 Kecemasan berhubungan dengan ancaman perubahan status kesehatan takut akan kebutaan jika berlanjut.

 

   Mengkaji tingkat kecemasan pasien

Memberi kesempatan pada pasien mengekspresikan harapan dan emosinya

Mempertahankan kondisi senyaman mungkin

Menjelaskan prosedur perawatan dan pengobatan

Memberi pengertian pada keluarga pasien untuk mendukung dan memotivasi agar klien segera bersemangat

S.

Klien mengatakan lebih semangat dan termotivasi untuk sembuh

O.

Pasein nampak berkurang cemasnya

Pasien nampak berbaring nyaman

Pasein tau rencana keperawatan dan pengobatan

Pasien berharap bisa dan segera sembuh

Keluarga klien nampak memberi dukungan penuh terhadap proses pengobatan dan kepada klien

A.

Masalah kecemasan teratasi

P.

Lanjutkan intervensi

Anjurkan keluarga untuk selalu memberi dukungan kepada klien

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Long C Barbara. Medical surgical Nursing. 1992

Sidarta Ilyas, Ilmu Penyakit Mata, FKUI, 2000.

Wilkinson, M.Judith. Diagnosa Keperawatan, Buku Saku, EGC, Jakarta, 2002, edisi 7

 

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.