LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

 

JUDUL LAPORAN :

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

GLAUCOMA

 

 

Di susun oleh :

Windra Bangun Sucipto

(A01001394)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH

GOMBONG

2012

HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

 

  1. Judul Laporan                                                 : LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN

KEPERAWATAN GLAUCOMA

  1. Bidang kegiatan                                  : keperawatan
  2. Pelaksana
    1. Nama                                            : Windra Bangun S
    2. Nim                                              : A01001394
    3. Program Studi                              : DIII Keperawatan
    4. Perguruan Tinggi              : STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG
    5. Alamat Rumah dan Nomor Hp    : Ds. Sidoharum Rt 03 / 01 Sempor, Hp

085747151451

  1. Tempat Pengkajian                              : RSU Purbowangi
  2. Ruang Pengkajian                               : Mata
  3. Alamat Email                                      : Haendy_taifibz@yahoo.com

 

Gombong, 8 mei 2011

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN GLAUCOMA

 

Windra Bangun sucipto

NIM A01001394

Program Studi D III Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Gombong

Jln. Yos Sudarso No. 461 Gombong 54412, telp / fax. 0287472433

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN

GLAUCOMA

 

  1. A.       Pengertian Glaucoma

Glaucoma merupakan kelainan mata yang dicirikan dengan rusaknya saraf optikyang berfungsi untuk membawa pesan-pesan cahaya dari mata ke otak. Kerusakan saraf optik ini disebabkan oleh kelebihan cairan humor yang mengisi bagian dalam bola mata. Cairan mata yang diproduksi oleh jaringan-jaringan di depan bola mata ini sebenarnya berfungsi untuk membawa makanan untuk kornea dan lensa mata. Cairan mata juga akan mempertahankan tekanan di dalam bola mata agar bentuknya tetap terjaga dengan baik. Tekanan yang dihasilkan oleh cairan mata disebut tekanan intraokuler.

Glaucoma adalah penyakit mata akibat dari tekanan intra okular (TIO) yang tinggi, dimana didapatkan tekanan TIO tinggi, kelainan syaraf optik dan kelainan lapangan pandang

Patokan pengukuran :

  1. Tekanan Intra Okular normal 15-20 mmHg.
  2. Tekanan > 21 mmHg sudah harus diikuti teliti
  3. Tekanan Intra Okular dipertahankan karena adanya dinamika akuos humor dalam mata. Gangguan dari dinamika ini akan mengakibatkan TIO naik/ tinggi, terjadi glaukoma

 

  1. B.       Beberapa Definisi Glaucoma

Glaucoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996)

Glaucoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa peninggian tekanan bola mata, penggaungan papil saraf optik dengan defek lapang pandangan mata.(Sidarta Ilyas,2000).

Glaucoma adalah suatu keadaan tekanan intraokuler / tekanan dalam bola mata relatif cukup besar untuk menyebabkan kerusakan pupil saraf optik dan menyebabkan kelainan lapang pandang ( ekantini, 2003 ).

 

  1. C.       Patofisiologi Glaucoma

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                                                     ( Windra, 2012 )

  1. D.       Klasifikasi Glaucoma
    1. Glaucoma primer

Penyebab tidak diketahui

Didapatkan pada orang yang memiliki bakat glaucoma (struktur) yang berhubungan dengan sirkulasi / reabsorbsi / outflow aquoshumor mengalami perubahan patologis / degeneratif.

Gangguan pengeluaran aquos humor (BMD sempit).

Kelainan pertumbuhan sudut BMD (ganiosdisgenesis = Trabekulogenesis, iridogenesis, korniodigenesis)

Glaukoma primer dibagi menjadi :

  1. Glaucoma sudut terbuka

Merupakan sebagian besar dari glaucoma ( 90-95% ) , yang meliputi kedua mata. Timbulnya kejadian dan kelainan berkembang secara lambat. Disebut sudut terbuka karena humor aqueousmempunyai pintu terbuka ke jaringan trabekular. Pengaliran dihambat oleh perubahan degeneratif jaringan rabekular, saluran schleem, dan saluran yg berdekatan. Perubahan saraf optik juga dapat terjadi. Gejala awal biasanya tidak ada, kelainan diagnose dengan peningkatan TIO dan sudut ruang anterior normal. Peningkatan tekanan dapat dihubungkan dengan nyeri mata yang timbul.

  1. Glaucoma sudut tertutup (sudut sempit).

Disebut sudut tertutup karena ruang anterior secara anatomis menyempit sehingga iris terdorong ke depan, menempel ke jaringan trabekular dan menghambat humor aqueous mengalir ke saluran schlemm. Pergerakan iris ke depan dapat karena peningkatan tekanan vitreus, penambahan cairan di ruang posterior atau lensa yang mengeras karena usia tua. Gejala yang timbul dari penutupan yang tiba- tiba dan meningkatnya TIO, dapat berupa nyeri mata yang berat, penglihatan yang kabur dan terlihat hal. Penempelan iris menyebabkan dilatasi pupil, bila tidak segera ditangani akan terjadi kebutaan dan nyeri yang hebat.

  1. Glaucoma sekunder

Dapat terjadi dari peradangan mata , perubahan pembuluh darah dan trauma . Dapat mirip dengan sudut terbuka atau tertutup tergantung pada penyebab yaitu Perubahan lensa, Kelainan uvea, Trauma bedah

  1. Glaucoma kongenital
    1. Primer atau infantil
    2. Menyertai kelainan kongenital lainnya
  2. Glaucoma absolut

Merupakan stadium akhir glaucoma ( sempit/ terbuka) dimana sudah terjadi kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut.

Pada glaucoma absolut kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi dengan eksvasi glaucomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa sakit.sering mata dengan buta ini mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskulisasi pada iris, keadaan ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya glaukoma hemoragik.

Pengobatan glaucoma absolut dapat dengan memberikan sinar beta pada badan siliar, alkohol retrobulber atau melakukan pengangkatan bola mata karena mata telah tidak berfungsi dan memberikan rasa sakit.

 

  1. E.       Manifestasi Klinis
    1. Glaucoma Akut

Rasa sakit hebat menjalar ke kepala disertai mual, muntah, mata merah dan bengka, tajam penglihatan menurun, dan melihat lingkaran seperti pelangi. Pada pemeriksaan dengan lampu senter telihat injeksi konjungtiva, injeksi siliar, komea ruram karena sembab, reaksi pupil hilang atau melambat, kadang pupil midriosis, kedua bilik mata depan dangkal.

  1. Glaucoma Kronik

Dari riwayat keluarga ditemukan beberapa anggota keluarga dalam garis vertikal atau horisontal yang memiliki penyakit serupa. Gejala-gejala yang terjadi akibat peningkatan tekanan bola mata, penyakit ini berkembang secara lambat tapi pasti. Penampilan bola mata seperti normal dan sebagian besar tidak mempunyai keluhan pada stadium dini. Pada stadium lanjut keluhannya berupa pasien sering menabrak karena pandangan lebih gelap, lebih kabur, palang pandang menjadi sempit, hingga kebutaan permanen.

 

  1. F.        Penatalaksanaan

Tujuan Farmakologi adalah untuk mempertahankan kontraksi pupil agar pengaliran humor aqueus lebih baik dan produksi humor aqueus dapat dikurangi dan pemberian obat diharapkan haruslah sesuai dengan anjuran.

  1. Glaucoma sudut terbuka / simplek
    1. Obat-obat miotik

Golongan kolinergik ( pilokarpin 1-4 % 5 kali sehari) Karbakol 0,75 – 3%

Golongan antikolineoterase (demekarium bromid, humorsol 0,25 %) pilokarpin 0,25.

  1. Obat-obat penghambat sekresi aqioshumor (adrenergik)

Timolol (tetes 0,25 dan 0,5 % 2 x sehari)

Epineprin 0,5 – 2 % 1-2 x sehari

  1. Carbonican hidrase inhibitor

Asetazolamid (diamok 125-250 mg 4 x sehari

Diklorfenamid (metazolamid)

  1. Trabekuloplatilaser dan iridektomi
  2. Tindakan bedah trabekulektomi
  3. Glaucoma sudut tertutup / akut
    1. Bahan hiperosmotik

Gliserin (gliserol) p.o 1cc / kg BB. Dalam larutan 50 % air jeruk

Manitol 20 % IV. 1-2 gram / Kg BB diberikan 60 tetes / menit.

  1. Miotikum pilokarpin 2-4 % 1 tts 3 x 5 menit kemudian 1 tts. 30 menit /2 jam. Selanjutnya 1 tts / jam sampai operasi.
  2. Karbonikan hidrase inhibitor

Asetasolamit langsung 500 mg / oral (2 tablet) lalu tiap 4 jam 250 mg.

  1. Operasi filtrasi

 

  1. G.       Pemeriksaan Fisik Mata yang Normal
    1. Palpebra : Penderita melihat lurus ke depan maka pinggir palpebra atas akan menutupi limbus atas (pinggir kornea) selebar 1 – 2 mm.
    2. Konjungtiva : Hiperemi pada glaukoma, Normalnya tidak berwarna.
    3. Kornea : normalnya bening
    4. BMD ( Bilik Mata Depan ) normalnya cukup dalam dan jernih
    5. Pupil : Normalnya mata kiri dan kanan sama lebarnya dan simetris
    6. Lensa mata : Normalnya Jernih

 

  1. H.       Pengkajian Fisik Mata yang Bisa Dilakukan
    1. a.         Tanometer

Tanometer Schiotz alat ini paling sering dipakai dan mudah penggunaanya.

Tanometer aplanasi dengan alat ini didapatkan hasil yang lebih cermat, tetapi memelurkan slitlamp biomikroskop (mahal).

  1. b.        Periksa papil syaraf optik

Alat oftalmoskop

Dilihat papil syaraf optik apakah ada cekungan akibat tekanan yang tinggi (“excavatio” = “cupping”).

Luas cekungan dibanding dengan keseluruhan disk=cup / disc ratio (c/d ratio).

Normal : c/d ratio 0- 0,3

> 0,3 curiga adanya kelainan (kemungkinan juga kongenital).

  1. c.         Pengkajian Ketajaman Penglihatan

Dilakukan di kamar yang tidak terlalu terang dengan kartu Snellen. Pasien duduk dengan dengan jarak 6 meter dari kartu Snellen dengan satu mata ditutup. Pasien diminta membaca huruf yang tertulis pada kartu, mulai dari baris paling atas kebawah, dan tentukan baris terakhir yang masih dapat dibaca seluruhnya dengan benar

V = D/d

V = Visus

D = Jarak yang dapat dilihat oleh mata normal

d = jarak yang dapat dilihat oleh penderita

  1. d.        Pengkajian Gerakan Mata

Uji Menutup, salah satu mata pasien di tutup dengan karton atau tangan pemeriksa, dan pasien di minta memfokuskan mata yang tidak tertutup pada satu benda diam sementara mata yang di tutup karton atau tangan tetap terbuka. Kemudian karton atau tangan tiba-tiba di singkirkan, dan akan nampak gerakan abnormal mata

  1. e.         Pengkajian Lapang Pandang

Pemeriksa dan pasien duduk dengan jarak 1 sampai 2 kaki, saling berhadapan. Pasien di minta menutup salah satu mata dengan karton, tanpa menekan, sementara ia harus memandang hidung pemeriksa.

Pemeriksaan lapang pandang teknik konfrontasi dengan pemeriksa dalam jarak 60cm, pasien meminta pandangan fokus ke depan lalu tangan pemeriksa kesamping dan klien diminta untuk memberi tanda jika bisa melihat.

 

 

 

 

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. S

PASIEN GLAUCOMA

DI RSU PURBOWANGI

 

 

Di Susun oleh :

Windra Bangun S

A01001394

 

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH

GOMBONG

 

2012

LAPORAN KASUS

 

Tanggal masuk                            : 1 januari 2012

Tanggal pengkajian                     : 1 januari 2012

Pengkaji                                      : Windra Bangun S

  1. A.       Biodata
    1. Identitas Pasien

Nama                             : Tn. S

Umur                              : 45 tahun

Jenis Kelamin                 : Laki – laki

Agama                           : Islam

Status                             : Kawin

Alamat                           : Ds. Sidoharum, Sempor

Suku                               : Jawa

Kebangsaan                   : Indonesia

  1. Identitas Penanggung Jawab

Nama                             : Ny. W

Umur                              : 36 tahun

Jenis Kelamin                 : Perempuan

Agama                           : Islam

Alamat                           : Ds Sidoharum, sempor

Hubungan                      : Isteri

 

  1. B.       Riwayat Kesehatan
    1. 1.        Keluhan Utama

Klien mengeluh nyeri pada mata dan pandangannya kabur saat melihat cahaya tidak kuat

  1. 2.        Riwayat Kesehatan Sekarang

Klien masuk ke Rumah Sakit Purbowangi tanggal 1 januuari 2012 dengan keluhan utama nyeri pada mata, pandangannya kabur dan ada lingkaran terang jika melihat bola lampu atau sumber cahaya.

  1. 3.        Riwayat Kesehatan Dahulu

Klien mengatakatan nyeri sejak 2 minggu lalu dan penglihatannya kurang jelas bahkan muncul lingkaran terang saat melihat sumber – sumber cahaya. Klien mengatakan punya riwayat sakit magh

  1. 4.        Riwayat Kesehatan Keluarga

Pasien mengatakan ibunya menderita myopia atau minus 8, juga anak ke tiganya perempuan juga menderita miyopi ( minus 1 kiri dan kanan silinder 1/2 )

 

Genogram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan

Perempuan                                 Laki – laki

 

Pasien                                         Sakit lain

 

Serumah                                     Pisah

 

 

 

  1. C.       Pola Fungsional
    1. 1.        Pola Nafas

Sebelum sakit      : Klien mengatakan sehat biasa tidak pernah mengalami sesak

Saat dikaji           : Klien mengatakan tidak sesak nafas dan tidak adanya tanda sesak nafas

  1. 2.        Pola Nutrisi dan Metabolik

Sebelum sakit      : Klien mengatakan makan 3x sehari dengan menu nasi, lauk dan sayur seadanya, serta minum kira kira 7gelas tiap hari. Klien nampak sehat, segar.

Saat dikaji           : Klien mengatakan makan 2x sehari dibuatkan isteri klien dengan menu nasi, tahu, telur,sayur dan minum teh. Klien juga sehat.

  1. 3.        Pola Eliminasi

Sebelum sakit      : Klien buang air besar 1x sehari warna kuning, padat dan lancar serta Buang air kecil 7x kira kira sehari dengan warna bening kekuningan.

Saat dikaji           : Klien mengatakan buang air besar rata – rata 1x dalam sehari, warna kuning , padat, namun terkendala sulit saat pergi ke wc jika gelap.

  1. 4.        Pola Tidur dan Istirahat

Sebelum sakit      : Klien mengatakan tidur 6 – 7 jam karena kadang berkumpul dengan rekan sebaya di kampungnya.

Saat dikaji           : Klien mengatakan tidur 5 – 6 jam saat sakit karena nyeri dan terbangun kadang – kadang.

  1. 5.        Pola Aktivitas

Sebelum sakit      : Klien tidak pernah mengalami gangguan gerak tubuh, klien biasa jalan pagi dan membaca koran serta menonton Tv jika waktu senggang dan sore kesawah.

Saat dikaji           : Klien mengatakan pusing jika membaca koran lama bahkan tidak pernah menonton TV lagi dan jarang berpergian memakai motor karena takut kurang jelas penglihatannya dan pusing.

 

 

  1. 6.        Kebutuhan Berpakaian

Sebelum sakit      : Klien mengatakan senang pakai kaos saat di rumah dan saat berpergian memakai batik

Saat dikaji           : klien mengatakan senang memakai batik saat pergi namun sekarang jarang berpergian

  1. 7.        Mempertahankan suhu tubuh

Sebelum sakit      : klien mengatakan nyaman menggunakan kaos berbahan katun dengan lengan panjang saat dirumah

Saat dikaji           : klien mengatakan tidak sedang merasa sakit atau demam, bahkan biasa saja hanya terasa lelah dan pusing.

  1. 8.        Kebutuhan Personal hygine

Sebelum sakit      : klien mengatakan mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari, dan saat mandi pun keramas 3x seminggu.

Saat dikaji           : Klien mengatakan mandi 2x sehari, gosok gigi 2x sehari, dan saat mandi keramas 1x seminggu

  1. 9.        Kebutuhan rasa aman dan nyaman

Sebelum sakit      : Klien mengatakan merasa nyaman dirumah karena bisa berkumpul dengan keluarga, isteri dan anaknya.

Saat dikaji           : Klien mengatakan bingung saat ditinggal dirumah sendirian, takut ada apa – apa dan tidak bisa keluar rumah.

  1. 10.    Kebutuhan Interaksi dan mengekspresikan rasa takut

Sebelum sakit      : Klien mengatakan berkomunikasi dengan anak – anaknya menggunakan telepone seluler jika sedang kangen anak pertamanya di jakarta, dan klien senang bercerita masalah kepada isteri juga teman sebayanya.

Saat dikaji           : Klien mengatakan mengungkapkan ketakutannya akan kebutaan jika sakit ini berlanjut kepada Isterinya.

  1. 11.    Kebutuhan spiritual

Sebelum sakit      : klien mengatakan shalat rutin 5 waktu, taat ibadah.

Saat dikaji           : klien mengatakan Shalat rutin 5 waktu, dan taat ibadah

  1. 12.    Kebutuhan bekerja

Sebelum sakit      : klien adalah petani yang rajin, dikenal aktif dan enerjik serta aktif di kampungnya

Saat dikaji           : Klien mengatakan aktifitas bekerja sedikit berkurang karena dihabiskan untuk istirahat dan tidak pernah berpergian lagi jika sendiri.

  1. 13.    Kebutuhan bermain dan rekreasi

Sebelum sakit      : klien menyukai pemandangan dan suasana alam, klien hanya jalan jalan sambil olahraga.

Saat dikaji           : klien tidak mungkin melakukan aktifitas ini, dan sementara melakukan apapun di kamar.

  1. 14.    Kebutuhan belajar akan Rasa ingin tahu

Sebelum sakit      : Klien mengatakan senang membaca koran, buku – buku pertanian ataupun nuntun TV

Saat dikaji           : Klien mengatakan kurang membaca koran, bahkan tidak pernah menonton televisi seperti dulu.

 

  1. D.       Pemeriksaan Fisik
    1. a.        Inspeksi

Kepala : simetris rambut lebat dan mulai beruban

Alis                                     : Bulu alis tebal, hitam

Bulu Mata                           : Bulu mata lebat, panjang, hitam

Kelopak Mata                     : Sayu, ada kantung mata

Konjungtiva                        : hiperemi

Kornea                                : Bening

Sclera                                  : Kekuningan

Pupil                                    : Melebar

  1. b.        Palpasi

Adanya nyeri tekan di temporalis, dan lakrimalis dan nyeri seperti menjalar kepala

  1. c.         Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan kwalitas retina ( E.R.G = electro retino gram )

Pemeriksaan Tonografi : TIO meningkat 31 mmHg

Pemeriksaan Ketajaman mata ( Visus )

V = D/d

V = 6/20 pada snellen jarak 6 meter

 

Pemeriksaan gerak mata

Akomodasi mata baik namun kadang juling saat melihat fokus

Pemeriksaan lapang pandang

Menggunakan konfrontasi Pada sudut 90˚ pasien tidak dapat melihat gerak jari namun di sudut 75˚ – 80˚ baru pasien berespon.

 

  1. E.       Program Terapi

No

Terapi

Bentuk

Indikasi

Dosis

1

Timol

Tetes

Menurunkan TIO

2 x 1

2

Carphine

Tetes

Mengecilkan pupil

2 x 1

3

Vitanorm

Oral ( tablet )

Vitamin mata

2 x 1

 

  1. F.        Analisa Data

No

Data

Etiologi

Problem

1

Ds.

Klien mengatakan penglihatannya kabur

Klien mengatakan saat membaca sering salah baris, dan mudah lelah

Do.

Kelopak mata sayu dan ada kantung mata

Konjungtiva hiperemi

Sclera kekuningan

Uji visus 6/18

Juling saat melihat vokus

 

 

Efek peningkatan aquos humor

 

Gangguan persepsi sensori

2

Ds.

Klien mengatakan pusing

Klien mengatakan matanya terasa perih

Klien mengatakan lelah untuk melihat

Klien mengatakan nyeri saat di tekan temporalisnya dan lakrimalisnya yang menjalar ke kepala

Klien mengatakan pegal matanya

Do.

Klien nampak sering memegang kepalanya

Klien nampak menekan – nekan pinggir matanya

Pemeriksaan tonografi TIO meningkat 31 mmhg

Kelopak mata berkantung

 

Agen cidera biologis peningkatan Tekanan intra okuler

 

Nyeri

3

Ds.

Klien mengatakan takut kondisi ini akan menjadi parah hingga buta

Klien mengatakan takut dikucilkan saat bergaul dengan teman – teman karena keadaannya

Do.

Klien nampak sering melamun dan kaget saat ditanya

Klien berkeringat jika sedang ditanya

 

 

 

Ancaman perubahan status kesehatan takut akan kebutaan jika berlanjut

 

Anxietas

 

 

 

  1. G.       Prioritas Diagnosa Keperawatan
    1. Gangguan rasa nyaman Nyeri berhubungan dengan agen cidera biologis Peningkatan tekanan Intra Okuler
    2. Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan efek peningkatan aqous homor
    3. Kecemasan berhubungan dengan ancaman perubahan status kesehatan takut akan kebutaan jika berlanjut.

 

  1. H.       Intervensi Keperawatan

Tanggal

No Dx

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Rasional

1 januari 2012

1

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam nyeri berkurang hingga hilang

Kriteria Hasil :

TIO menurun

Nyeri berkurang hingga hilang

Keadaan umum tenang

Dapat beristirahat dengan baik

 

 

 

Kaji tingkat nyeri klien

 

 

 

 

Beri posisi yang nyaman untuk pasien

 

Ajarkan teknik relaksasi distraksi atau mendengarkan musik

 

Kolaborasikan pemberian analgetik dan obat penurunan aqous humor

 

   Untuk menentukan tindakan dan tingkat keberhasilan

 

Diharapkan dapat istirahat dengan baik

 

Untuk mengalihkan rasa nyeri agar sedikit lebih aman

 

 

produksi aqoeous humor menurun dan hambatan berkurang serta IOP ¯

1 januari 2012

2

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan segera, diharapkan tidak terjadi kehilangan penglihatan yang berlanjut

 

Kriteria Hasil :

Klien kooperatif dalam tindakan

Tidak terjadi penurunan visus

 

 

Pastikan derajat kehilangan ketajaman mata

 

Anjurkan pasien menengok ke samping setiap sisi

 

Jaga kebersihan mata

 

 

Turunkan bahaya keamanan yang dapat menjadi resiko cidera

 

Kolaborasikan pemberian obat untuk mencegah trauma berlanjut

 

Untuk menentukan kemampuan penglihatan dan tindakan

 

Untuk menambah lapang pandang

 

 

 

Untuk menjaga kondisi agar tidak menjadi lebih buruk

 

Untuk mengurangi resiko cidera yang timbul karena penglihatan terganggu

 

Diharapkan obat efektif untuk pencegahan agr tidak berlanjut

 

 

3

Tujuan :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1×24 jam diharapkan kecemasan berkurang dan termotivasi untuk sembuh.

Kriteria Hasil :

Klien mampu mengungkapkan kecemasannya

Klien mampu mengungkapkan usaha untuk keluar dari cemas

Klien memahami tujuan pengobatan

 

Kaji tingkat kecemasan

 

 

 

Berikan kesempatan klien mengekspresikan dirinya baik mengenai emosi atau harapan

 

Pertahankan kondisi yang senyaman mungkin

 

 

Berikan penjelasan mengenai prosedur perawatan, pengobatan, perjalanan penyakit

 

Berikan pengertian pada keluarga untuk memotivasi untuk sembuh

 

Untuk mengetahui sejauh mana cemas

 

Mengekspresikan perasaan bisa menjadikan alat untuk tau sumber kecemasan klien

 

 

 

 

Dengan suasana nyaman dan tenang dapat menurunkan kecemasan

 

Agar klien mengetahui secara pasti mengenai gambaran penyakitnya

 

 

 

Agar kecemasan hilang dan pasien semangat untuk menjalani pengobatan

 

 

  1. I.          Implementasi

Waktu

No Dx

Implementasi

Respon

Ttd

1 januari 2012

10.00

1

   Mengkaji tingkat nyeri klien

Memberikan dan mengupayakan posisi nyaman untuk klien

Mengajarkan teknik distraksi relaksasi

Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik dan obat penurun aquos humor

 

 

  Nyeri pada skala 8

 

Klien nampak nyaman dan mengungkapkanya

 

Klien kooperatif dan nampak patuh

Klien nampak lebih berkurang nyerinya ditandai dengan tidak mengeluh seperti awalnya

 

10.15

2

   Memastikan derajat kehilangan ketajaman mata

Mengkaji keadaan fisik mata

 

 

 

Menjaga kebersihan mata pasien

 

Menurunkan bahaya lingkungan yang dapat membahayakan pasien

Berkolaborasi dengan dokter pemberian vitamin mata dan tetes mata untuk mengatasi

  Klien mengungkapkan ketakutannya

 

Pupil melebart, sclera kekuningan, adanya nyeri tekan,, lapang pandang menurun, visus menurun

Mata pasien tidak ter iritasi dari benda asing dari luar

Lingkungan aman dan pasien lebih leluasa tanpa ada takut jatuh

 

Pasien mulai tenang tidak pegal seperti awal

 

11.00

3

   Mengkaji tingkat kecemasan pasien

Memberi kesempatan pada pasien mengekspresikan harapan dan emosinya

Mempertahankan kondisi senyaman mungkin

Menjelaskan prosedur perawatan dan pengobatan

Memberi pengertian pada keluarga pasien untuk mendukung dan memotivasi agar klien segera bersemangat

  Pasien mengatakan takut buta

Klien terlihat sedih dan ingin sekali segera sembuh

 

Klien nampak setengah tiduran

 

Pasien nampak lebih tenang dan mengatakan akan berusaha mengikuti

Keluarga mendukung penuh proses pengobatan pasien dan selalu menunggu

 

 

  1. J.         Evaluasi
Tanggal

Diagnosa keperawatan

implementasi

Evaluasi

1/januari 2012 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan    Mengkaji tingkat nyeri klien

Memberikan dan mengupayakan posisi nyaman untuk klien

Mengajarkan teknik distraksi relaksasi

Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgetik dan obat penurun aquos humor

S.

Klien mengatakan setelah dilakukan tindakan dan juga ditetes obat nyeri berkurang

O.

Klien nampak tidak lagi menahan sakit

Klien nampak tidak memegang matanya lagi

Klien nampak tenang dan tidak merintih sakit lagi

A.

Nyeri sementara berkurang dan mulai hilang setelah dilakukan tindakan serta meneteskan obat

P.

Lanjutkan intervensi terus selama klien dalam proses pengobatan

Berikan posisi nyaman

Ajarkan distraksi relaksasi

Beri obat sesuai anjuran dokter

 

1/januari 2012 Gangguan persepsi sensori berhubungan dengan efek peningkatan aqous homor

 

   Memastikan derajat kehilangan ketajaman mata

 

Mengkaji keadaan fisik mata

 

Menjaga kebersihan mata pasien

 

Menurunkan bahaya keamanan dari lingkungan yang dapat membahayakan pasien

 

Berkolaborasi dengan dokter pemberian vitamin mata dan tetes mata untuk mengatasi

S.

Pasien mengatakan setelah dilakukan beberapa tindakan, pasien merasa lebih baik

O.

Keadaan mata lebih bersih

Kekurangan ketajaman dipertahankan

Lingkungan bebas dari bahaya yang dapat menjadi resiko cidera pasien

 

A.

Masalah klien sedikit teratasi

P.

Lanjutkan Intervensi

Kaji ketajaman mata

Kaji keadaan fisik mata

Jaga kebersihan mata

Ciptakan lingkungan aman dari resiko cidera

Kolaborasi dengan dokter untuk pemberianobat dan vitamin yang tepat

 

1/januari 2012 Kecemasan berhubungan dengan ancaman perubahan status kesehatan takut akan kebutaan jika berlanjut.

 

   Mengkaji tingkat kecemasan pasien

Memberi kesempatan pada pasien mengekspresikan harapan dan emosinya

Mempertahankan kondisi senyaman mungkin

Menjelaskan prosedur perawatan dan pengobatan

Memberi pengertian pada keluarga pasien untuk mendukung dan memotivasi agar klien segera bersemangat

S.

Klien mengatakan lebih semangat dan termotivasi untuk sembuh

O.

Pasein nampak berkurang cemasnya

Pasien nampak berbaring nyaman

Pasein tau rencana keperawatan dan pengobatan

Pasien berharap bisa dan segera sembuh

Keluarga klien nampak memberi dukungan penuh terhadap proses pengobatan dan kepada klien

A.

Masalah kecemasan teratasi

P.

Lanjutkan intervensi

Anjurkan keluarga untuk selalu memberi dukungan kepada klien

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

 

Long C Barbara. Medical surgical Nursing. 1992

Sidarta Ilyas, Ilmu Penyakit Mata, FKUI, 2000.

Wilkinson, M.Judith. Diagnosa Keperawatan, Buku Saku, EGC, Jakarta, 2002, edisi 7